Contoh Marquee dari bawah ke atas

PPDB TP.2026/2027

Penerimaan Siswa Baru Tahun Pelajaran 2026/2027 MTS Darul Hikmah Onyam Kecamatan Gunung Kaler

Kegiatan Ujian Nasional Tahun 2015

Hari ke-2 Selasa,5 Mei 2015 sebanyak 48 Siswa-Siswi MTs Darul Hikmah Masih Tetap semangat untuk menyelesaikan Soal Ujian Nasioanl

Kegiatan Studi Tour Ke Museum Fatahilah,Museum Wayang, dan Bank Indonesia

Wejangan dan Nasihat dari Kepala Sekolah Sebelum melaksanakan Penelitian di Museum Fatahilah, Museum Wayang, dan Musem Bank Indonesia

Materi Pokok Kurikulum Berbasis Cinta

Materi Pokok Kurikulum Berbasis Cinta:Cinta Allah Swt. dan Rasul-Nya, Cinta Ilmu, Cinta Lingkungan, Cinta Diri dan Sesama Manusia, dan Cinta Tanah Air

Cinta Tanah Air Sebagian Dari Iman

Hubbul Wathon Minal Iman ("Cinta tanah air adalah sebagian dari iman") adalah slogan nasionalisme Islam yang dipopulerkan ulama Nusantara, terutama oleh KH. Hasyim Asy'ari dan KH. Abdul Wahab Chasbullah

Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 Juli 2025

Daftar Isi Kitab Pelajaran

Daftar Isi Kitab

1. Daqoiqul Ahbar

Pendahuluan

Cabang Pertama: Iman Kepada Allah

Cabang Kedua: Iman Kepada Malaikat

Cabang Ketiga: Iman Kepada Kitab-kitab Allah

Cabang Keempat: Iman Kepada Para Nabi

Cabang Kelima: Iman Kepada Hancurnya Alam

Cabang Keenam: Iman Kepada Kebangkitan Manusia Dari Kematian 

Cabang Ketujuh: Iman kepada Takdir

Cabang Kedelapan: Iman Kepada Hasyr (Dikumpulkannya Makhluk di Mahsyar)

Cabang Kesepuluh: Cinta Kepada Allah

Cabang Kesebelas: Takut Kepada Siksa Allah

Cabang Kedua belas: Mengharap Rahmat Allah

Cabang Ketiga Belas: Tawakkal (Pasrah Kepada Allah)

Cabang Keempat Belas: Cinta Kepada Nabi Muhammad Saw.

Cabang Kelima Belas: Mengagungkan Derajat Nabi Muhammad Saw.

Cabang Keenam Belas: Kikir (Jual Mahal) Dengan Memegang teguh Agama Islam

Cabang Ketujuh Belas: Mencari Ilmu

Cabang Kedelapan Belas: Menyebarluaskan Ilmu Syariat

Cabang Kesembilan Belas: Mengagungkan Dan Memuliakan Al-Qur’an

Cabang Kedua Puluh: Bersuci

Cabang Kedua Puluh Satu: Menjalankan Salat Lima Waktu Pada Waktunya Dengan sempurna

Cabang Kedua Puluh Dua: Membayarkan Zakat Kepada Orang-orang Yang Berhak Menerimanya

Cabang Kedua Puluh Tiga: Berpuasa Di Bulan Ramadan

Cabang Kedua Puluh Empat: I'tikaf

Cabang Kedua Puluh Lima: Haji

Cabang Kedua Puluh Enam: Berjuang Melawan Orang Kafir Untuk Menolong Agama Islam

Cabang Kedua Puluh Tujuh: Membentengi Kaum Muslimin Dari Serangan Orang Kafir

Cabang Kedua Puluh Delapan: Bertahan Di Dalam Kancah Perang dan Tidak Melarikan Diri Darinya (Desersi)

Cabang Kedua Puluh Sembilan: Menyerahkan Seperlima Harta Jarahan Perang Kepada Pemimpin Atau Pembantunya

Cabang Ketiga Puluh: Memerdekakan Budak (Hamba Sahaya) yang Muslim

Cabang Ketiga Puluh Satu: Bersedia Membayar Kafarah

Cabang Ketiga Puluh Dua: Menepati Janji

Cabang Ketiga Puluh Tiga: Bersyukur

Cabang Ketiga Puluh Empat: Menjaga Lisan Dari Hal-hal Yang Tidak Layak

Cabang Ketiga Puluh Lima: Menjaga Kemaluan Dari Hal-hal Yang Dilarang Allah

Cabang Ketiga Puluh Enam: Menyampaikan Amanat Kepada Yang Berhak Menerimanya

Cabang Ketiga Puluh Delapan: Menghindari Makanan Dan Minuman Yang Haram

Cabang Ketiga Puluh Sembilan: Menghindari Harta Yang Haram

Cabang Keempat Puluh: Menghindari Pakaian, Perhiasan Dan Perabot Yang Haram

Cabang Keempat Puluh Satu: Menghindari Permainan Sia-sia Yang Dilarang

Cabang Keempat Puluh Dua: Sederhana Di Dalam Memberikan Nafakah, Tidak Berlebihan Dan Tidak Terlalu

Cabang Keempat Puluh Tiga: Tidak Menyimpan Dendam Dan Kedengkian

Cabang Keempat Puluh Empat: Tidak mencela Kaum Muslimin, Baik Di Hadapannya Maupun Tidak

Cabang Keempat Puluh Lima: Ikhlas Dalam Setiap Amal Perbuatan Karena Allah

Cabang Keempat Puluh Enam: Merasa Bahagia Dengan Ketaatan Kepada Allah, Sedih Karena Tak Melakukannya Dan Menyesal Dari Perbuatan Maksiat (Durhaka Kepada Allah)

Cabang Keempat Puluh Tujuh: Bertobat

Cabang Keempat Puluh Delapan: Melakukan Penyembelihan Qurban, Aqiqah dan Hadiah (Hewan Yang Disembelih Di Tanah Haram Mekah Atau Madinah)

Cabang Keempat Puluh Sembilan: Taat Kepada Pemerintah

Cabang Kelima Puluh: Berpegang Teguh pada Nilai Yang Dianut Jamaah (golongan) Muslim

Cabang Kelima Puluh Satu: Menjalankan Hukum Di antara Manusia Secara Adil

Cabang Kelima Puluh Dua: Memerintahkan (Mengajak) Kepada Kebaikan Dan Mencegah (melarang) Dari Kejahatan Atau Kemungkaran

Cabang Kelima Puluh Tiga: Tolong Menolong Dalam Hal Kebaikan dan Ketakwaan

Cabang Kelima Puluh Empat: Malu Kepada Allah

Cabang Kelima Puluh Lima: Bersikap (Berbuat) Baik Kepada Kedua Orang Tua

Cabang Kelima Puluh Enam: Silaturahmi (Menyambung Tali Persaudaraan)

Cabang Kelima Puluh Delapan: Memperlakukan Hamba Sahaya Dengan Baik

Cabang Kelima Puluh Sembilan: Ketaatan Seorang Hamba Kepada Tuannya Sesuai Dengan Kemampuannya Dalam Hal-Hal Yang Bukan Maksiat

Cabang Keenam Puluh: Menjaga Hak-hak Istri Dan Anak-anak

Cabang Keenam Puluh Satu: Mencintai Ahli Agama

Cabang Keenam Puluh Dua: Menjawab Salam Dari Orang Islam

Cabang Keenam Puluh Tiga: Menjenguk Orang Sakit

Cabang Keenam Puluh Empat: Melakukan Salat Jenazah untuk Mayat Yang Islam

Cabang Keenam Puluh Lima: Mendoakan Orang Islam Yang Bersin (Tasymit)

Cabang Keenam Puluh Enam: Menjauhi Hal-hal Yang Merusak Dari Orang Kafir, Ahli Bid'ah dan Orang Yang Melakukan Dosa Besar

Cabang keenam Puluh Tujuh: Menghormati Tetangga

Cabang Keenam Puluh Delapan: Menghormati Tamu

Cabang Keenam Puluh Sembilan: Menyembunyikan (Menutupi) Cela Orang Lain

Cabang Ketujuh Puluh: Sabar

Cabang Ketujuh Puluh Satu: Zuhud (Membatasai Diri)

Cabang Ketujuh Puluh Dua: Cemburu Dan Tidak Membiarkan Pria Bergaul Bebas Dengan Wanita Lain

Cabang Ketujuh Puluh tiga: Berpaling Dari Percakapan Yang Tidak Bermanfaat

Cabang Ketujuh Puluh Empat: Juud Atau Sakha' (Kedermawanan)

Cabang Ketujuh Puluh Lima: Menghormati Orang Tua Dan Mengasihi Anak Kecil

Cabang Ketujuh Puluh Enam: Merukunkan (Memperbaiki) Hubungan Yang Rusak Antara Orang-Orang Islam Bila Ada Cara Untuk Melakukannya

Cabang Ketujuh Puluh Tujuh: Mencintai Orang Lain Sebagaimana Mencintai Dirinya Sendiri



2. Syamsul Maarif Kubro

Pembukaan

1. Fadlilah Asma Allah "Al-Lathiif"

2. Fadlilah Asma Allah "Al-Baasithu"

3. Fadlilah Asma Allah "Al-Hakiim"

4. Fadlilah asma Allah "Al-Mu'iid"

5. Fadlilah Asma Allah "Al-Majiid"

6. Fadlilah Asma Allah “Al mubdi-u”

7. Fadlilah Asma Allah “Al-hafiizh”

8. Fadlilah Asma Allah “Al-muhiith”

9. Fadlilah Asma Allah “Al-Aziiz”

10. Fadilah asma Allah “Al-Waasi’u”

11. Rajah Nabi Muhammad SAW.

12. Untuk keamanan rumah

13. Memudahkan Kelahiran

14. Untuk Mendatangkan Semua Yang Dihajati

15. Agar Tidak Dimarahi Atasannya

16. Untuk Menggoyahkan Hati Orang

17. Mencerdaskan Akal

18. Mahabbah Supaya Disayang Orang

19. Untuk Menyembuhkan Segala Penyakit

20. Untuk Mendamaikan Keluarga

21. Obat Penyakit Radang Mata

22. Untuk Penyembuhan Penyakit Mata

23. Penangkal Kepala Pusing

24. Obat Segala Penyakit.

25. Obat Sakit Perut.

26. Khasiat Asma’ Barhatiyah

27. Khasiat Asma Al Qamar

28. Khasiat Asma 'Asha Musa

29. Khasiat Asma' Thahatil

30. Khasiat Asma' Ash-haabul Kahfi.

31. Khasiat Asma' Hijab.

32. Khasiat Asma' Ummi Musa.

33. Mahkota Sulaiman.

34. Doa Dzul Faqor.

35. Supaya Mimpi Bertemu Nabi Muhammad Saw.

36. Hizib Bahr.

37. Hizib Imam Nawawi.

38. Hizib Ikhfa' Oleh Imam Hasan Asy-syadzily.

39. Agar Musuh Menjadi Bingung.

40. Memerangi Musuh.

41. Mengeluarkan Musuh.

42. Bila Ingin Merukunkan Pasangan Suami Istri.

43. Agar Cepat Mendapat Jodoh.

44. Musuh Yang Zhalim Menjadi Hancur.

45. Agar tidak dimarahi atasannya.

46. Obat Sakit Kepala.

47. Obat Penyakit Lemah Badan.

48. Agar Mendapat Pangkat/Kedudukan.

49. Cara Mengusir Tikus.

50. Mengusir Kesedihan dan Meraih Keberuntungan.

51. Obat sakit kencing batu.

52. Obat segala penyakit kulit (obat luar).

53. Obat Sakit Gigi.

54. Obat Penghilang Dahak.

55. Obat Penyakit Tulang.

56. Obat Mimisan.

57. Obat Sakit Perut.

58. Obat Penyakit Hati.

59. Obat Jerawat.

60. Cara Menyembuhkan Penyakit Liver.

61. Obat Penyakit Lepra.

62. Cara Mengobati Sakit Lumpuh.

63. Cara Mengobati Sakit Gila.

64. Obat Sakit Batuk.

65. Cara Mengobati Sakit Ginjal.

66. Cara Mengobati Penyakit Beri-Beri.

67. Do'a Akasyah dan Khasiatnya.

68. Munfarijah Shughro.

69. Munfarijah Kubro.

70. Bila Ingin Rezekinya Melimpah Ruah.

71. Allah Membukakan Pintu Rezekinya dan Dikabulkan Permohonannya.

72. Bila Ingin Dimudahkan Allah Rezekinya dan Diberkahi Seluruh Keluarganya

73. Bila Ingin Rezekinya Bertambah Banyak dan Memperoleh Kebaikan yang Tidak Sedikit dari Allah.

74. Dimudahkan Rezekinya Bahkan Semua Persoalannya Menjadi Mudah

75. Bila Ingin Memperoleh Kekayaan dan Semua Orang Tunduk Kepadanya.

76. Bila Ingin Mendapat Kekayaan yang Melimpah Ruah.

77. Supaya Tidak Menjadi Fakir Selamanya.

78. Agar Menjadi Orang Kaya.

79. Agar Dibukakan Pintu Rezeki.

80. Apabila Ingin Mudah Memperoleh Rezeki.

81. Barang Dagangannya Laku Keras.

82. Agar Toko Anda Dikunjungi Pembeli yang Banyak.

83. Agar Dagangannya Laku Keras.

84. Supaya Dagangannya Laku Keras.

85. Banyak Pembelinya yang datang dari mana-mana.

86. Supaya Dagangannya Laku Keras dan Mendapat Untung Banyak.

87. Supaya Dagangannya diserbu Pembeli.

88. Ayat Lima dan Khasiatnya.

89. Ayat Tujuh dan Khasiatnya.

90. Ayat Lima Belas dan Khasiatnya.

91. Do'a Kanzul Arsy.

92. Do'a Nuurun Nubuwwah (Nur Buat) (Cahaya Kenabian).

93. Cara Mengobati Penyakit Ginjal.

94. Cara Mengobati Penyakit Jantung.

95. Obat Bagi Suami Istri yang Mandul.

96.Obat Sakit Kepala Separuh.

97.Obat Penyakit Mudah Terkejut.

98. Obat Mencegah Keguguran.


3. Ta'lim Mutaalim

Pembukaan - المقدمة

Fasal tentang pengertian Ilmu, fiqih dan faidahnya - فصل فى ماهية العلم والفقه وفضله

Fasal Tentang Niat Ketika Belajar - فصل فى النية فى حال التعلم

Fasal Tentang Memilih guru dan teman - فصل فى اختيار العلم ولأستاذ والشريك والثبات عليه

Fasal Tentang Memuliakan Guru Beserta Ahlinya- فصل فى تعظيم العلم وأهله

Fasal Tentang Kesungguhan, ketetapan dan cita-cita yang tinggi- فصل في الجد والمواظبة و الهمة

Fasal Tentang Permulaan belajar, ukuran, urutanya - فصل فى بداية السبق وقدره وترتيبه 

Fasal Tentang Tawakkal - فصل فى التوكل

Fasal Tentang Waktu Belajar - فصل فى وقت التحصيل

Fasal Tentang Belas Asih Dan Nasehat - فصل فى الشفقة والنصيحة

Fasal Mencari Faedah dan Mencari Adab - فصل فى الإستفادة واقتباس الأدب

Fasal Tentang Wira'i Ketika Belajar - فصل فى الورع فى حالة التعلم

Fasal Tentang sesuatu yang dapat menjadikan hafal dan lupa - فصل فيما يورث الحفظ وفيما يورث النسيان

Fasal Tentang sesuatu yang menarik dan yang melarang rizki, dan yang menambah dan mengurangi umur - فصل فيما يجلب الرزق وفيما يمنع وما يزيد فى العمر وما ينقص

4. Qomitughyan 

Pendahuluan

Cabang Pertama: Iman Kepada Allah

Cabang Kedua: Iman Kepada Malaikat

Cabang Ketiga: Iman Kepada Kitab-kitab Allah

Cabang Keempat: Iman Kepada Para Nabi

Cabang Kelima: Iman Kepada Hancurnya Alam

Cabang Keenam: Iman Kepada Kebangkitan Manusia Dari Kematian Cabang Ketujuh: Iman kepada Takdir

Cabang Kedelapan: Iman Kepada Hasyr (Dikumpulkannya Makhluk di Mahsyar)

Cabang Kesepuluh: Cinta Kepada Allah

Cabang Kesebelas: Takut Kepada Siksa Allah

Cabang Kedua belas: Mengharap Rahmat Allah

Cabang Ketiga Belas: Tawakkal (Pasrah Kepada Allah)

Cabang Keempat Belas: Cinta Kepada Nabi Muhammad Saw.

Cabang Kelima Belas: Mengagungkan Derajat Nabi Muhammad Saw.

Cabang Keenam Belas: Kikir (Jual Mahal) Dengan Memegang teguh Agama Islam

Cabang Ketujuh Belas: Mencari Ilmu

Cabang Kedelapan Belas: Menyebarluaskan Ilmu Syariat

Cabang Kesembilan Belas: Mengagungkan Dan Memuliakan Al-Qur’an

Cabang Kedua Puluh: Bersuci

Cabang Kedua Puluh Satu: Menjalankan Salat Lima Waktu Pada Waktunya Dengan sempurna

Cabang Kedua Puluh Dua: Membayarkan Zakat Kepada Orang-orang Yang Berhak Menerimanya

Cabang Kedua Puluh Tiga: Berpuasa Di Bulan Ramadan

Cabang Kedua Puluh Empat: I'tikaf

Cabang Kedua Puluh Lima: Haji

Cabang Kedua Puluh Enam: Berjuang Melawan Orang Kafir Untuk Menolong Agama Islam

Cabang Kedua Puluh Tujuh: Membentengi Kaum Muslimin Dari Serangan Orang Kafir

Cabang Kedua Puluh Delapan: Bertahan Di Dalam Kancah Perang dan Tidak Melarikan Diri Darinya (Desersi)

Cabang Kedua Puluh Sembilan: Menyerahkan Seperlima Harta Jarahan Perang Kepada Pemimpin Atau Pembantunya

Cabang Ketiga Puluh: Memerdekakan Budak (Hamba Sahaya) yang Muslim

Cabang Ketiga Puluh Satu: Bersedia Membayar Kafarah

Cabang Ketiga Puluh Dua: Menepati Janji

Cabang Ketiga Puluh Tiga: Bersyukur

Cabang Ketiga Puluh Empat: Menjaga Lisan Dari Hal-hal Yang Tidak Layak

Cabang Ketiga Puluh Lima: Menjaga Kemaluan Dari Hal-hal Yang Dilarang Allah

Cabang Ketiga Puluh Enam: Menyampaikan Amanat Kepada Yang Berhak Menerimanya

Cabang Ketiga Puluh Delapan: Menghindari Makanan Dan Minuman Yang Haram

Beli buku terlaris onlineRestoran terbaik di dekat sini

Cabang Ketiga Puluh Sembilan: Menghindari Harta Yang Haram

Cabang Keempat Puluh: Menghindari Pakaian, Perhiasan Dan Perabot Yang Haram

Cabang Keempat Puluh Satu: Menghindari Permainan Sia-sia Yang Dilarang

Cabang Keempat Puluh Dua: Sederhana Di Dalam Memberikan Nafakah, Tidak Berlebihan Dan Tidak Terlalu

Cabang Keempat Puluh Tiga: Tidak Menyimpan Dendam Dan Kedengkian

Cabang Keempat Puluh Empat: Tidak mencela Kaum Muslimin, Baik Di Hadapannya Maupun Tidak

Cabang Keempat Puluh Lima: Ikhlas Dalam Setiap Amal Perbuatan Karena Allah

Cabang Keempat Puluh Enam: Merasa Bahagia Dengan Ketaatan Kepada Allah, Sedih Karena Tak Melakukannya Dan Menyesal Dari Perbuatan Maksiat (Durhaka Kepada Allah)

Cabang Keempat Puluh Tujuh: Bertobat

Cabang Keempat Puluh Delapan: Melakukan Penyembelihan Qurban, Aqiqah dan Hadiah (Hewan Yang Disembelih Di Tanah Haram Mekah Atau Madinah)

Cabang Keempat Puluh Sembilan: Taat Kepada Pemerintah

Beli buku terlaris onlineRestoran terbaik di dekat sini

Cabang Kelima Puluh: Berpegang Teguh pada Nilai Yang Dianut Jamaah (golongan) Muslim

Cabang Kelima Puluh Satu: Menjalankan Hukum Di antara Manusia Secara Adil

Cabang Kelima Puluh Dua: Memerintahkan (Mengajak) Kepada Kebaikan Dan Mencegah (melarang) Dari Kejahatan Atau Kemungkaran

Cabang Kelima Puluh Tiga: Tolong Menolong Dalam Hal Kebaikan dan Ketakwaan

Cabang Kelima Puluh Empat: Malu Kepada Allah

Cabang Kelima Puluh Lima: Bersikap (Berbuat) Baik Kepada Kedua Orang Tua

Cabang Kelima Puluh Enam: Silaturahmi (Menyambung Tali Persaudaraan)

Cabang Kelima Puluh Delapan: Memperlakukan Hamba Sahaya Dengan Baik

Cabang Kelima Puluh Sembilan: Ketaatan Seorang Hamba Kepada Tuannya Sesuai Dengan Kemampuannya Dalam Hal-Hal Yang Bukan Maksiat

Cabang Keenam Puluh: Menjaga Hak-hak Istri Dan Anak-anak

Cabang Keenam Puluh Satu: Mencintai Ahli Agama

Cabang Keenam Puluh Dua: Menjawab Salam Dari Orang Islam

Cabang Keenam Puluh Tiga: Menjenguk Orang Sakit

Cabang Keenam Puluh Empat: Melakukan Salat Jenazah untuk Mayat Yang Islam

Cabang Keenam Puluh Lima: Mendoakan Orang Islam Yang Bersin (Tasymit)

Cabang Keenam Puluh Enam: Menjauhi Hal-hal Yang Merusak Dari Orang Kafir, Ahli Bid'ah dan Orang Yang Melakukan Dosa Besar

Cabang keenam Puluh Tujuh: Menghormati Tetangga

Cabang Keenam Puluh Delapan: Menghormati Tamu

Cabang Keenam Puluh Sembilan: Menyembunyikan (Menutupi) Cela Orang Lain

Cabang Ketujuh Puluh: Sabar

Cabang Ketujuh Puluh Satu: Zuhud (Membatasai Diri)

Cabang Ketujuh Puluh Dua: Cemburu Dan Tidak Membiarkan Pria Bergaul Bebas Dengan Wanita Lain

Cabang Ketujuh Puluh tiga: Berpaling Dari Percakapan Yang Tidak Bermanfaat

Cabang Ketujuh Puluh Empat: Juud Atau Sakha' (Kedermawanan)

Cabang Ketujuh Puluh Lima: Menghormati Orang Tua Dan Mengasihi Anak Kecil

Cabang Ketujuh Puluh Enam: Merukunkan (Memperbaiki) Hubungan Yang Rusak Antara Orang-Orang Islam Bila Ada Cara Untuk Melakukannya

Cabang Ketujuh Puluh Tujuh: Mencintai Orang Lain Sebagaimana Mencintai Dirinya Sendiri


5. Mukasafatul Qulub

PENGANTAR PENULIS

1 PENJELASAN TENTANG RASA TAKUT

2 SEKALI LAGI TENTANG RASA TAKUT KEPADA ALLAH TA'ALA

3 TENTANG KESABARAN & PENYAKIT

4 MENAKLUKKAN KEINGINAN NAFSU

5 TENTANG MENGALAHKAN NAFSU & PERMUSUHAN SYAITAN

6 TENTANG KELALAIAN

7 MELUPAKAN ALLAH, KEFASIKAN & KEMUNAFIKAN

8 TENTANG TAUBAT

9 TENTANG CINTA ALLAH 

10 TENTANG ISYIQ 

11 TAAT & CINTA KEPADA ALLAH & KEPADA RASULNYA SAW

12 TENTANG IBLIS & SIKSANYA

13 TENTANG AMANAT

14 TENTANG MENYEMPURNAKAN SHALAT DENGAN TUNDUK & KHUSYU'

15 TENTANG MENYURUH BERBUAT KEBAIKAN & MELARANG BERBUAT KEMUNGKARAN 

16 TENTANG MEMUSUHI SYETAN

17 TENTANG PENJELASAN AMANAT & TAUBAT

18 TENTANG KASIH SAYANG 

19 TENTANG PENJELASAN KHUSYU DALAM SHALAT

20 TENTANG PENJELASAN GHIBAH & NAMIMAH

21 TENTANG PENJELASAN ZAKAT

22 TENTANG PENJELASAN ZINA

23 TENTANG SILATURRAHIM & HAK-HAK KEDUA ORANG TUA

24 TENTANG BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA

25 TENTANG ZAKAT & SIFAT KIKIR

26 TENTANG PANJANG ANGAN-ANGAN

27 TENTANG MELAKUKAN KETAATAN & MENINGGALKAN YANG HARAM

28 TENTANG PENJELASAN MENGINGAT KEMATIAN 

29 TENTANG LAPISAN-LAPISAN LANGIT & BERMACAM-MACAM JENIS MAKHLUK

30 PENJELASAN TENTANG AL-KURSIY & ARSY, PARA MALAIKAT MUQARRABIN, REZEKI & TAWAKKAL

31 TENTANG MENJAUHI DUNIA & CELAAN TERHADAPNYA

32 TENTANG CELAAN TERHADAP DUNIA

33 KEUTAMAAN QANA'AH

34 KEUTAMAAN KAUM FAKIR

35 TENTANG MENJADIKAN PERLINDUNGAN SELAIN ALLAH & PENJELASAN PADANG MAHSYAR

36 TENTANG TIUPAN SANGKAKALA, KETAKUTAN & KEBANGKITAN DARI KUBUR

37 PENGADILAN ANTARA UMAT MANUSIA

38 PENJELASAN TENTANG KEBURUKAN HARTA

39 TENTANG AMAL-AMAL, MIZAN (TIMBANGAN AMAL) & SIKSA NERAKA

40 KEUTAMAAN TAAT 

41 TENTANG SYUKUR

42 PENJELASAN JELEKNYA KESOMBONGAN

43 MEMIKIRKAN HARI-HARI DAN LAINNYA

44 PENJELASAN KERASNYA KEMATIAN 

45 PENJELASAN TENTANG KUBUR & PERTANYAANNYA

46 PENJELASAN ILMU YAKIN, AINUL YAKIN & PERTANYAAN PADA HARI PEMERIKSAAN AMAL

47 KEUTAMAAN DZIKRULLAH  (MENYEBUT / MENGINGAT ALLAH TA'ALA)

48 KEUTAMAAN-KEUTAMAAN SHALAT

49 PENJELASAN HUKUMAN ATAS ORANG YANG MENINGGALKAN SHALAT

50 PENJELASAN TENTANG NEGERI JAHANNAM & SIKSAANNYA 

51 PENJELASAN SIKSA NERAKA

52 KEUTAMAAN TAKUT DOSA

53 PENJELASAN KEUTAMAAN TAUBAT

54 PENJELASAN TENTANG LARANGAN BERBUAT ZALIM

55 LARANGAN MENGANIAYA ANAK YATIM

56 PENJELASAN JELEKNYA KESOMBONGAN 

57 KEUTAMAAN TAWADHU' (RENDAH HATI) & QANA'AH (RIDHA DENGAN BAGIAN REZEKINYA) 

58 PENJELASAN GHURUR (TIPU DAYA) DUNIA 

59 KEJELEKAN DUNIA & PERINGATAN TERHADAPNYA 

60 KEUTAMAAN SHODAQOH

61 MEMENUHI HAJAT SAUDARANYA YANG MUSLIM

62 KEUTAMAAN WUDHU

63 KEUTAMAAN SHALAT

64 KEDAHSYATAN HARI KIAMAT 

65 SIFAT NERAKA JAHANNAM & MIZAN (TIMABANGAN AMAL) 

66 PENJELASAN JELEKNYA KESOMBONGAN & KEBANGGAAN DIRI 

67 BERBUAT BAIK KEPADA ANAK YATIM & MENJAUHI KEZALIMAN

68 TENTANG MEMAKAN HARTA HARAM 

69 LARANGAN MAKAN RIBA

70 HAK-HAK HAMBA

71 KEJELEKAN MENGIKUTI HAWA NAFSU & PENJELASAN ZUHUD 

72 SIFAT SURGA & TINGKATAN-TINGKATAN PENGHUNINYA

73 KESABARAN, KERIDHAAN & QANA'AH

74 KEUTAMAAN TAWAKKAL

75 KEUTAMAAN MASJID

76 RIYADHAH & KEUTAMAAN AHLI KAROMAH

77 TENTANG IMAN & KEMUNAFIKAN

78 LARANGAN MELAKUKAN GHIBAH & NAMIMAH

79 PENJELASAN TENTANG PERMUSUHAN SYAITAN

80 PENJELASAN CINTA & PENGORBANAN DIRI 

81 TENTANG MENCAMPUR YANG HAK DENGAN YANG BATIL

82 KEUTAMAAN SHALAT JAMA'AH

83 KEUTAMAAN SHALAT MALAM

84 HUKUMAN ATAS ULAMA DUNIA

85 KEUTAMAAN AKHLAK YANG BAIK

86 TENTANG TERTAWA, TANGISAN & PAKAIAN

87 KEUTAMAAN AL-QUR'AN, ILMU & ULAMA 

88 KEUTAMAAN SHALAT & ZAKAT 

89 BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA & HAK-HAK DARI ANAK-ANAK 

90 HAK-HAK TETANGGA & BERBUAT BAIK KEPADA KAUM MISKIN

91 HUKUM PEMINUM KHAMAR

92 MI'RAJ NABI SAW 

93 KEUTAMAAN-KEUTAMAAN HARI JUM'AT 

94 HAK ISTRI PADA SUAMI

95 HAK SUAMI PADA ISTRI

96 KEUTAMAAN JIHAD

97 TIPU DAYA SYAITAN

98 PENJELASAN TENTANG AS-SAMAA

99 LARANGAN BERBUAT BID'AH

100 KEUTAMAAN-KEUTAMAAN BULAN RAJAB 

101 KEUTAMAAN BULAN SYA'BAN YANG PENUH BERKAH

102 KEUTAMAAN BULAN RAMADHAN

103 KEUTAMAAN LAILATUL QADAR

104 KEUTAMAAN HARI RAYA 

105 KEUTAMAAN SEPULUH DZULHIJJAH 

106 KEUTAMAAN ASYURA

107 KEUTAMAAN MENERIMA TAMU KAUM FAKIR 

108 PEMBICARAAN TENTANG JENAZAH & KUBUR 

109 MENIMBULKAN RASA TAKUT KEPADA SIKSA NERAKA  

110 MIZAN (TIMBANGAN AMAL) & SHIRAT (JEMBATAN DIATAS NERAKA)

111 TENTANG WAFATNYA NABI SAW


6. Dzurotunnasihin

MUKADIMAH

DOA-DOA

1. KEUTAMAAN BULAN RAMADAN

2. KEUTAMAAN PUASA

3. KEUTAMAAN ILMU

4. KEUTAMAAN BULAN RAMADAN

5. KETENTRAMAN HATI DENGAN MENYAKSIKAN KEKUASAAN ALLAH

6. KEUTAMAAN MEMBERI SEDEKAH DI JALAN ALLAH

7. CELAAN TERHADAP ORANG YANG MAKAN HASIL RIBA

8. KEUTAMAAN SALAT BERJAMAAH

9. KEUTAMAAN TAUHID

10. KEUTAMAAN TOBAT 

11. KEUTAMAAN BULAN RAJAB

12. KEUTAMAAN ORANG LAKI-LAKI ATAS ORANG PEREMPUAN

13. KEUTAMAAN BERBAKTI KEPADA IBU-BAPAK

14. KEUTAMAAN CINTA KEPADA ALLAH DAN RASULNYA

15. KEUTAMAAN MEMBERI SALAM

16. TENTANG WAFAT NABI SALLALLAAHU ALAIHI WASALLAM

17. CELAAN TERHADAP ORANG YANG SUKA MABUK-MABUKAN

18. CELAAN TERHADAP SIFAT DENGKI

19. TENTANG TURUNNYA HIDANGAN DARI LANGIT BERKAT DOA NABI ISA AS.

20. KEUTAMAAN BERPUASA ENAM HARI DI BULAN SYAWWAL

21. KEUTAMAAN BERDOA DENGAN SUARA KERAS DAN SUARA PELAN

22. PENJELASAN TENTANG IMAN

23. PENJELASAN TENTANG HUKUMAN BAGI ORANG-ORANG YANG MENINGGALKAN PERINTAH-PERINTAH ALLAH

24. PENJELASAN TENTANG FIRMAN ALLAH TAALA MENGENAI ORANG YANG MENYIMPAN EMAS DAN PERAK

25. KEUTAMAAN BULAN RAJAB

26. KEUTAMAAN SIFAT DERMAWAN

27. PENJELASAN TENTANG REZEKI

28. PENJELASAN TENTANG CELAAN TERHADAP ORANG YANG MEMBANTU ORANG ZALIM

29. PENJELASAN TENTANG KEADAAN-KEADAAN MANUSIA PADA HARI KIAMAT

30. PENJELASAN TENTANG AMPUNAN BAGI ORANG YANG BERTOBAT

31. PENJELASAN TENTANG BERLAKU ADIL DAN BERBUAT KEBAJIKAN

32. PENJELASAN TENTANG MIKRAJ NABI MUHAMMAD SAW.

33. PENJELASAN TENTANG KEUTAMAAN MANUSIA

34. PENJELASAN TENTANG SALAT TAHAJJUD

35. PENJELASAN TENTANG KEUTAMAAN SAHABAT

36. PENJELASAN TENTANG KECAMAN DAN TIDAK KEKALNYA DUNIA

37. PENJELASAN TENTANG DAHSYATNYA MAUT 

38. PENJELASAN TENTANG ORANG YANG MENINGGALKAN SALAT

39. PENJELASAN TENTANG KECAMAN TERHADAP ORANG YANG BERPALING DARI ALQURAN

40. PENJELASAN TENTANG PEDIHNYA MAUT

41. PENJELASAN TENTANG KIAMAT

42. PENJELASAN TENTANG SIKAP RENDAH HATI

43. PENJELASAN TENTANG KECAMAN TERHADAP PERBUATAN MAKSIAT DAN ANIAYA

44. PENJELASAN TENTANG MENGINGAT ALLAH DAN MENGESAKANNYA

45. PENJELASAN TENTANG KEUTAMAAN ZIKIR

46. PENJELASAN TENTANG PERBUATAN KHIANAT TERHADAP AMANAT ALLAH

47. KEUTAMAAN MEMBACA ALQURAN

48. PENJELASAN TENTANG ORANG-ORANG KAFIR DI NERAKA

49. KISAH TENTANG NABI IBRAHIM AS. MENYEMBELIH PUTERANYA ISMAIL AS.

50. PENJELASAN TENTANG KESABARAN NABI AYYUB AS.

51. PENJELASAN TENTANG NERAKA

52. PENJELASAN TENTANG SURGA

53. PENJELASAN TENTANG PERMOHONAN AMPUN MALAIKAT UNTUK ORANGORANG MUKMIN

54. PENJELASAN TENTANG KEUTAMAAN SIKAP ISTIQOMAH

55. PENJELASAN TENTANG KEUTAMAAN TOBAT.

56. KEUTAMAAN BULAN SYA'BAN YANG DIMULIAKAN

57. PENJELASAN TENTANG CINTA DAN BENCI KARENA ALLAH

58. PENJELASAN TENTANG PERMUSUHAN SETAN

59. PENJELASAN TENTANG HIJRAH UNTUK MELAKUKAN KETAATAN KEPADA ALLAH TAALA

60. PENJELASAN TENTANG KEUTAMAAN MALAM BARA'AH

61. PENJELASAN TENTANG HARI KIAMAT DAN HISABNYA

62. KECAMAN TERHADAP ORANG YANG DURHAKA KEPADA IBU-BAPAK DAN KEUTAMAAN BERBUAT BAIK KEPADA KEDUANYA.

63. KECAMAN TERHADAP SIFAT BURUK SANGKA DAN MENGGUNJING

64. PENJELASAN TENTANG MUKJIZAT NABI MUHAMMAD SAW.

65. PENJELASAN TENTANG MENANGIS

66. PENJELASAN TENTANG KEUTAMAAN HARI JUMAT

67. PENJELASAN TENTANG NERAKA DAN MALAIKAT ZABANIYAH

68. PENJELASAN TENTANG TOBAT NASUHAH

69. PENJELASAN TENTANG TANDA-TANDA ORANG YANG BERUNTUNG DAN CELAKA

70. PENJELASAN TENTANG IHWAL NAFSU

71. PENJELASAN TENTANG HARI RAYA IDUL FITRI

72. KEUTAMAAN SEPULUH DZULHIJJAH

73. PENJELASAN TENTANG KEUTAMAAN LAILATUL QADAR

74. KEUTAMAAN KURBAN DAN PENJELASAN TENTANG TAKBIR-TAKBIRNYA

75. KEUTAMAAN MEMBACA SURAH AL IKHLAS DENGAN BASMALAH

PENUTUP



7. Tanqihul Qoul

PEMBUKAAN

BAB I KEUTAMAAN ILMU DAN ULAMA

BAB II KEUTAMAAN LAA ILAAHA ILLALLAAH

BAB III KEUTAMAAN BISMILLAHIR RAHMAANIR RAHIIM

BAB IV KEUTAMAAN SHALAWAT ATAS NABI SAW.

BAB V KEUTAMAAN IMAN

BAB VI KEUTAMAAN WUDLU' 

BAB VII KEUTAMAAN SIWAK

BAB VIII KEUTAMAAN ADZAN

BAB IX KEUTAMAAN SHALAT BERJAMA'AH

BAB X KEUTAMAAN JUM'AT

BAB XI KEUTAMAAN MASJID-MASJID

BAB XII  KEUTAMAAN BERSURBAN

BAB XIII KEUTAMAAN PUASA

BAB XIV KEUTAMAAN IBADAH FARDLU

BAB XV KEUTAMAAN IBADAH SUNAH

BAB XVI KEUTAMAAN ZAKAT

BAB XVIII KEUTAMAAN SALAM

BAB XIX KEUTAMAAN DOA

BAB XX KEUTAMAAN ISTIGHFAR

BAB XXI KEUTAMAAN BERDZIKIR KEPADA ALLAH TA'ALA


8. Bidayatul Hidayah

Bismillahirrohmanirraohim - بسم الله الرحمن الرحيم

Beli buku terlaris online

Fasal Pertama Tentang Ketaatan - القسم الأول في الطاعات

Permulaan - توطئة

Fasal Tentang Adab Bangun Dari tidur - فصل في آداب الاستيقاظ من النوم


Bab Adab Masuk Kamar Mandi - باب آداب دخول الخلاء


3. TATA CARA BERWUDLU

4. TATA CARA MANDI

5. TATA CARA BERTAYAMUM

6. TATA CARA PERGI KE MASJID

7. TATA CARA MASUK KE DALAM MASJID

8. AMALAN DISEPANJANG SIANG DAN MALAM

9. ADAB MEMPERSIAPKAN DIRI UNTUK SHALAT

10. MENJELANG TIDUR

11. ADAB MELAKSANAKAN SHALAT

12. ADAB IMAM DAN MAKMUM

13. ADAB DI HARI JUM'AT

14. ADAB BERPUASA


BAB 2 MENJAUHI LARANGAN

A. MENJAUHI LARANGAN SECARA LAHIRIYAH

1. Memelihara Mata

2. Memelihara Telinga

3. Memelihara Lisan

4. Memelihara Perut

5. Memelihara Farji (kemaluan)


B. MENJAUHI MAKSIAT HATI

BAB 3 PERGAULAN DENGAN ALLAH DAN SESAMA MAKHLUK

PENUTUP


9. Qostrul Ghois

PENDAHULUAN

BAB I: MASALAH IMAN DAN MACAM-MACAMNYA

BAB II: MASALAH IMAN KEPADA ALLAH

BAB III: MASALAH IMAN KEPADA MALAIKAT

BAB IV: MASALAH IMAN KEPADA KITAB KITAB ALLAH

BAB V: MASALAH IMAN KEPADA NABI

BAB VI: MASALAH IMAN KEPADA KIAMAT Beli buku terlaris online

BAB VII : MASALAH IMAN KEPADA TAKDIR ALLAH

BAB VIII: MASALAH IMAN DAN SIFAT-SIFATNYA



10. Maroqil Ubudiyah

Pembukaan - المقدمة

Mengenai Ketaatan

Adab Bangun Dari Tidur

Adab Memasuki Kamar Kecil

Adab Berwudu

Adab Mandi

Adab Bertayamum

Adab Keluar Menuju Masjid

Adab Memasuki Masjid

Adab Di Antara Terbit Hingga Tergelincirnya Matahari

Adab Persiapan Untuk Salat salat Lainnya

Adab Tidur

Adab-Adab Salat

Adab Imam Dan Makmum

Adab-Adab Salat Jumat

Adab-Adab Puasa

Menjauhi Perbuatan Maksiat

Pembicaraan Tentang Kedurhakaan Hati

Adab Bergaul Dengan Al-Khaliq Dan Sesama



11. Nashoihul Ibad

BAB I

NASIHAT YANG BERISI DUA PERKARA

Bab ini terdiri atas tiga puluh nasihat, yaitu empat khabar dan selebihnya adalah atsar. Khabar adalah sabda Nabi saw., sedangkan atsar adalah perkataan para sahabat dan tabiin

1. Iman dan Kepedulian Sosial

2. Dekat dengan Ulama dan Memperhatikan Nasihat Hukama

3. Masuk ke Kubur Tanpa. Bekal, Laksana Mengarungi Lautan Tanpa, Bahtera

4. Umar dan Abu Bakar r.a.

5. Gelisah Duniawi dan Ukhrawi

6. Ilmu dan Maksiat

7. Orang Mulia dan Orang Bijaksana Dari Yahya bin Mu'adz ra:

8. Takwa dan Dunia

9. Menuruti Nafsu Syahwat dan Kesombongan

10. Berdosa Sambil Tertawa dan Berbuat Taat Sambil Menangis

11. Jangan Meremehkan Dosa Kecil

12. Dosa Kecil dan Dosa Besar

13. Kemauan Orang yang Makrifat dan Orang yang Zuhud.

14. . Orang yang Sedikit Makrifatnya dan Orang yang Belum . Mengenal Betul Dirinya Se Sendiri

15. Lisan dan Hati

16. Syahwat dan Sabar

17. Akal dan Hawa Nafsu

18. Hati yang Lembut dan Pikiran yang Jernih

19. Menaati Perintah dan Menjauhi Larangan

20. Dua Kiat Untuk Menyempurnakan Akal

21. Orang yang Mulia dan Orang yang Bodoh

22. Dekat kepada Allah swt. dan Jauh dari Manusia.

23. Tanda Makrifat dan Tanda Hidup

24. Pangkal Segala Kesalahan dan Pokok Semua Fitnah

25. Mengakui Kekurangan dan Kelemahan Diri

26. Mengingkari Nikmat dan Bersahabat dengan Orang Tolol

27. Dunia dan Kematian

28. Munajat dan Mohon Ampunan

29. Senang kepada Allah dan Tidak Senang kepada Diri Sendiri

30. Manisnya Dekat dengan Allah dan Pahitnya Putus Hubungan


BAB II

NASIHAT YANG TERDIRI DARI TIGA PERKARA

Bab ini memuat lima puluh nasihat, tujuh di antaranya berupa hadis, sedangkan selebihnya berupa atsar


1. Mengeluh, Susah Duniawi, Merendah Diri kepada Orang Kaya

2. Tiga Perkara yang Tidak Dapat Dicapai dengan Tiga Cara

3. Sebagian Akal, Ilmu dan Penghidupan

4. Supaya Disenangi Allah, Malaikat dan Orang-orang Muslim

5. Islam, Taat dan Kematian

6. Tiupan Nikmat, Pujian dan Tutup Keaiban

7. Tiga Perkara yang Harus Diperhatikan oleh Orang yang Berakal

8. Tiga Faktor dalam Empat Perkara

9, Hidup, Berpisah dan Balasan

10. Tiga Golongan Manusia yang Akan Mendapat Naungan Allah di Hari Kiamat Nanti

11 Tiga Faktor yang Menyebabkan Manusia Menjadi Kekasih Allah swt,

12. Tiga Perkara yang Menyirnakan Kegalauan

13. Adab, Kesabaran dan Warak

14. Takut kepada Allah, Mengendalikan Lisan dan Selektif Terhadap Makanan

15. Tiga Faktor Penting yang Menyebabkan Ilmu Bermanfaat

16. Tiga Tuntutan dalam Munajat Imam Sulaiman Ad-Darani

17. Tiga Tanda Orang yang Paling Bahagia

18. Tiga Hal Penyebab Celaka

19. Tiga Bekal Akhirat

20. Sunah Allah, Sunah Rasul dan Sunah Wali-wali Allah

21. Diri Kita di Mata Allah, di Mata Kita Sendiri dan di Mata Orang Lain

22. Dosa Kecil, Rezeki dan Bencana

23. Makan, Sandang dan Papan (Tempat)

24. Kaya, Kuat dan Menang .

25. Tiga Tanda Iman

26. Cinta, Takut dan Malu kepada Allah

27. Orang yang Paling Beribadah, Zuhud dan Paling Kaya

28. Warga, Pemimpin dan Penduduk '

29. Menguasai, Dikuasai dan Mengimbangi

30. Tiga Perkara Tentang Perbandingan Dunia dan Akhirat

31. Tiga Faktor Meraih Zuhud

32. Tiga Hal yang Harus Diperhatikan Untuk Bersikap Ramah Terhadap Allah

33, Zuhud Terdiri dari Tiga Huruf

34. Makna yang Dikandung oleh Tiga Huruf dari Kata Zuhud

35. Tiga Sampul Agama

36. Manusia Untuk Tiga Komponen

37. Tiga Faktor Penambah Kekuatan Hafalan

38. Tiga Benteng dari Serangan Setan

39. Tiga Gudang Allah swt.

40. Hari, Bulan dan Amal yang Baik

41. Tiga Tanda Orang Baik.

42. Tiga Hal yang Menyenangkan ,

43, Tersesat, Melarat dan Terhina

44. Tiga Macam Buah Makrifat

45. Cinta, Iffah dan Pangkal Keyakinan

46. Cinta kepada Allah, Cinta kepada Orang yang Dicinta Allah, Cinta pada Amal yang Dilakukan karena Cinta kepada Allah

47. Tiga Faktor Cinta yang Sebenarnya”:

48. Tamak, Taat dan Janaah

49. Orang yang Makrifat, Benci Dunia dan Tidak Punya Musuh

50. Takut, Suka dan Jenak

51. Tiga Ciri Orang yang Makrifat kepada Allah swt.

52. Tiga Ciri Lain Makrifat kepada Allah swt.

53. Pangkal Kebajikan Dunia dan Akhirat

54. Ibadah adalah Kesempatan Kerja

55, Tiga Hal yang Harus Dijauhi Orang Mukmin


BAB III

NASIHAT TENTANG EMPAT PERKARA

Pada bab ini terdapat tiga puluh tujuh nasihat, yang terdiri dari delapan hadis dan selebihnya adalah atsar

1. Empat Nasihat Nabi saw. kepada Abu Dzar Al-Ghifari

2. Empat Perkara yang Lebih Baik Daripada yang Baik-baik

3. Empat Perkara yang Lebih Jelek Daripada Empat Perkara

4. Empat Keamanan

5. Empat Perkara Disempurnakan dengan Empat yang Lain

6. Hak Salat, Puasa, Membaca Alqur-an dan Sedekah

7. Empat Macam Lautan

8. Manisnya Ibadah dalam Empat Perkara

9. Empat Perkara yang Lahirnya Fadhilah dan Batinnya Faridhah

10. Rindu Surga, Khawatir Neraka, Yakin Tentang Kematian dan Mengenali Dunia

11. Empat Keutamaan Diam

12. Puasa, Salat, Sedekah dan Jihad

13. Empat Faktor Penyebab Hati Gelap dan Terang

14. Empat Perkata Tanpa Empat Bukti adalah Dusta

15. Empat Gejala Kecelakaan dan Kebahagiaan

16. Panji-panji Keimanan Ada Empat

17. Empat Macam Induk

18. Empat Perbuatan Dapat Menghilangkan Empat Permata

19. Empat Hal di Surga Lebih Bagus Daripada Surga dan Empat Hal di Neraka Lebih Jelek dari Neraka

20. Empat Macam Tanda Bagi Hukama

21. Empat Kalimat Pilihan dalam Empat Kitab Allah swt.

22. Empat Nikmat Dibalik Bencana

23. Empat Kalimat Pilihan dari Empat Puluh Ribu Hadis

24. Empat Perkara yang Dikalahkan oleh Nabi Yahya a.s.

25. Empat Faktor yang Menegakkan Agama dan Dunia

26. Empat Golongan Manusia dengan Empat

27. Meskipun Seorang Hamba Berdosa, Allah Tetap Memberikan Anugerah Kepadanya

28. Meninggalkan Empat Hal untuk Menuju Empat Perkara

29. Empat Hal pada Empat Jalan Lain

30. Empat Hal yang Sedikitnya Itu Termasuk Banyak

31. Empat Hal yang Hanya Bisa Diketahui oleh Empat Orang

32. Keistimewaan Bagi Mereka yang Ketika di Dunia Ditimpa Bencana

33. Empat Perenggut Mengancam Anak Adam

34. Empat Macam Kesibukan yang Tidak Lepas dari Empat Faktor

35. Empat Amal yang Paling Berat

36. Empat Waktu Bagi Orang yang Berakal

37. Empat Pengabdian yang Merupakan Pangkal Segala Ibadah


BAB IV

NASIHAT TENTANG LIMA PERKARA

Pada bab ini terdapat dua puluh tujuh nasihat, terdiri atas enam hadis dan selebihnya atsar

1. Jangan Merendahkan Lima Perkara

2. Mencintai Lima dan Melupakan Lima

3. Allah Menganugerahkan Lima Hal dan Mempersiapkan Lima Hal yang Lain

4. Lima Kegelapan dan Lima Penerang

5. Lima Orang Penghuni Surga

6. Tanda Orang yang Bertakwa Ada Lima

7. Lima Perkara yang Menjadi Kendala Bagi Terbentuk Pribadi yang Saleh

8. Lima Kemuliaan Nabi saw.

9. Lima Bekal Untuk Meraih Kebahagiaan

10. Lima Nasihat dari Kitab Taurat

11. Jaga Lima Sebelum Datang Lima

12. Lima Dampak Buruk dari Kenyang

13. Lima Pilihan Orang Fakir dan Orang Kaya

14. Lima Obat Hati .

15. Lima Sasaran Pemikiran

16. Lima Jenjang untuk Menggapai Ketakwaan yang Sempurna

17. Lima Pelindung dari Lima Perkara

18. Lima Perkara Tercela dan Lima Perkara Terpuji Sehubungan dengan Harta

19. Tiada Harta Tanpa Dibarengi Lima Hal Tercela Dari

20. Tergesa-tergesa adalah Dari Setan, Kecuali dalam Lima Perkara

21. Lima Perkara Penyebab Iblis Celaka dan Lima Hal Penyebab Adam a.s. Bahagia

22. Lima Pegangan yang Harus Dipatuhi

23. Lima Hal Lebih Utama

24. Lima Perkara Terpuji yang Dikandung oleh Zuhud

25. Lima Perkara yang Menyesatkan

26. Di Akhir Zaman Orang Akan Mencintai Lima Hal dan Melupa kan Lima yang Lain

27. Lima Keindahan yang Ditopang oleh Lima Perkara


BAB V

NASIHAT TENTANG ENAM PERKARA

Pasa bab ini terdapat tujuh belas nasihat, terdiri dari dua hadis dan” selebihnya adalah atsar.


1. Enam Perkara Asing pada Enam Tempat .

2. Enam Orang yang Mendapat Laknat dari Allah swt., Rasulullah saw. dan Para Nabi Lainnya

3. Enam Perkara yang Mengajak Manusia pada Enam Perkara

4. Allah Menyembunyikan Enam Perkara di dalam Enam Hal

5. Orang Mukmin Mengalami Enam Macam Ketakutan

6. Enam Bekal untuk Membeli Tiket ke Surga

7. Enam Kenikmatan

8. Ilmu, Kepahaman, Akal, Hawa, Harta dan Dunia

9. Enam Perkara Mampu Menandingi Dunia Seisinya

10. Enam Hal Sebagai Penguat Bagi yang Lain

11. Enam Macam yang Harus Ditakuti

12. Enam Faktur Penyebab Kerusakan Hati

13. Enam Siksaan bagi Ahli Dunia

14. Akibat Buruk bagi Enam Golongan

15. Enam Gejala Diterima Tobat

16. Enam Tipu Daya yang Paling Besar

17. Enam Karunia yang Paling Baik


BAB VI

NASIHAT TENTANG TUJUH PERKARA

Dalam bab ini i terdapat sepuluh nasihat, lima di antaranya khabar’ (hadis) dan lima atsar.


1. Tujuh Golongan Mendapat Naungan dari Allah

2. Orang Bakhil Diancam oleh Tujuh Perkara

3. Tujuh Sebab Akibat Buruk yang Merusak Hati

4. Tujuh Kalimat dalam Harta Terpendam dan Dua Anak Yatim pada Zaman Nabi Musa a.s.

5. Tujuh Perkara Melebihi Keadaan

6. Tujuh Pandangan Nabi saw. Tentang Dunia

7. Tujuh Wasiat Jibril kepada Nabi saw.

8. Tujuh Orang yang Dimurkai Allah pada Hari Kiamat

9. Tujuh Orang Termasuk Mati Syahid

10. Tujuh Hal yang Harus Dipilih oleh Orang yang Berakal


BAB VII

NASIHAT TENTANG DELAPAN PERKARA

Bab ini terdiri atas lima nasihat, yaitu satu hadis dan selebihnya atsar.


1. Delapan Perkara yang Tidak Pernah Merasa Kenyang dari Delapan Hal .

2. Delapan Perhiasan

3. Delapan Anugerah

4. Delapan Tanda Orang yang Makrifat

5. Delapan Kebaikan Tidak Dinilai Baik Jika Tidak Disertai Delapan Perkara


BAB VII

NASEHAT TENTANG SEMBILAN PERKARA

Bab ini terdiri atas lima nasehat, yang satu berupa hasis dan yang lainnya adalah atsar


1. Sembilan hal sebagai induk segala kesalahan

2. Sembilan Tanda bagi Orang yang Beribadah

3. Sembilan Anak Iblis

4. Sembilan Kemuliaan bagi Orang yang Memelihara Salatnya

5. Menangis dan Keutamaannya


BAB IX

NASIHAT TENTANG SEPULUH PERKARA

Bab ini terdiri atas dua puluh sembilan nasihat, yang sebelas berupa hadis dan selebihnya adalah atsar.


1. Sepuluh Keutamaan Bersiwak

2. Sepuluh Anugerah yang Sangat Berharga

3. Sepuluh Perkara Belum Menjadi Baik Tanpa Dibarengi Sepuluh yang Lain

4. Sepuluh Hal yang Paling Sia-sia

5. Sepuluh Perkara Terbaik

6. Sepuluh Orang Merasa Mukmin, Padahal Mereka Kafir

7. Sepuluh Proses Menjadi Seorang Mukmin yang Sempurna

8. Sepuluh Hal Duniawi Tidak Pantas Disukai oleh Ulama

9. Sepuluh Perkara yang Dibenci Oleh Allah Swt.

10. Sepuluh Macam Kesejahteraan Bersabda Rasulullah saw.:

11. Sepuluh Nama Bagi Kitab Allah Alqur-an

12. Sepuluh Nasihat Luqman kepada Putranya

13. Sepuluh Hak yang Harus Diperhatikan bagi Orang yang Bertobat

14. Setiap Hari Bumi Memekikkan Sepuluh Kalimat

15. Sepuluh Siksa Bagi Orang yang Banyak Tertawa

16. Sepuluh Ramuan Pembasuh Dosa dan Obat Penyakit Hati

17. Sepuluh Kata Hikmah

18. Sepuluh Golongan yang Tidak Akan Masuk Surga, Kecuali Jika Mau Bertobat

19. Sepuluh Golongan yang Tidak Diterima Salatnya

20. Sepuluh Hal Seyogianya Dilakukan oleh Orang yang Masuk Mesjid

21. Sepuluh Hal Kebaikan dalam Salat

22. Sepuluh Cincin Ahli Surga dan Sepuluh Cincin Ahli Neraka

23. Sepuluh Hal dalam Sepuluh Tempat yang Lain

24. Sepuluh Perkara yang Dilakukan oleh Nabi Ibrahim a.s.

25. Membaca Salawat Nabi Sekali Dibalas Sepuluh Kali

26. Sepuluh Faktor Penyebab Hati Menjadi Mati :

27. Sepuluh Kalimat Doa di Malam Hari Arafah

28. Sepuluh Kekasih Iblis

29. Nasihat-nasihat dari Kitab Taurat


12. Adzkar An Nawawi


PENDAHULUAN

MEMBACA AL-QUR’AN

PUJIAN KEPADA ALLAH

SALAWAT ATAS RASULULLAH


BEBERAPA ZIKIR DAN DOA PADA PERISTIWA-PERISTIWA TERTENTU

BEBERAPA ZIKIR YANG DIUCAPKAN PADA WAKTU-WAKTU KESULITAN DAN KETIKA DITIMPA MALAPETAKA

BEBERAPA ZIKIR DI WAKTU SAKIT DAN KEMATIAN

BEBERAPA ZIKIR DALAM SOLAT KHUSUS

BEBERAPA ZIKIR PUASA

BEBERAPA ZIKIR DALAM JIHAD

BEBERAPA ZIKIR UNTUK MUSAFIR

BEBERAPA ZIKIR UNTUK ORANG YANG MAKAN DAN MINUM

BEBERAPA HAL YANG BERKAITAN DENGAN SALAM, MINTA IZIN DAN MENDOAKAN ORANG BERSIN

BEBERAPA ZIKIR NIKAH

TENTANG NAMA-NAMA

MACAM-MACAM ZIKIR

PENJAGAAN LISAN

HIMPUNAN DOA-DOA

PERMINTAAN AMPUN KEPADA ALLAH

PENUTUP


13. Sirrul Asror

MUKADDIMAH

I. RAHASIA KALIMAT HASBUNALLAHU WANI' MAL WAKIIL

PASAL I : DI ANTARA KEUTAMAAN KALIMAT HASBUNALLAHU WANI'MAL WAKIIL

PASAL 2 : DI ANTARA KEUTAMAAN KALIMAT HASBUNALLAHU WANI'MAL WAKIIL

PASAL 3 : CARA MELATIH DIRI MENGGUNAKAN KALIMAT HASBUNALLAHU WANI'MAL WAKIIL

PASAL 4 : DI ANTARA KEUTAMAAN KALIMAT HASBUNALLAHU WANI' MAL WAKIIL

PASAL 5 : DI ANTARA KEUTAMAAN KALIMAT HASBUNALLAHU WANI'MAL WAKIIL 


II. KALIMAT THAYYIBAH

1. BACAAN KALIMAT TAUHID

2. BACAAN TASBIH

3. BACAAN ISTIGHFAR

4. BACAAN HAUQALAH

5. BACAAN HAMDALAH

6. BACAAN SALAM


III. 25 KIAT MEMBUKA PINTU RIZKI

1. BERTAKWA KEPADA ALLAH

2. BERTAWAKAL KEPADA ALLAH

3. BERSYUKUR KEPADA ALLAH

4. BERIBADAH KEPADA ALLAH SEPENUHNYA

5. BERHAJI, KEMUDIAN MENGIKUTINYA DENGANUMRAH

6. SILATURRAHIM

7. MENIKAH TERMASUK SEBAB MELIMPAHNYA RIZKI

8. BERINFAK DI JALAN ALLAH Beli buku terlaris online

9. MENYIBUKKAN DIRI DENGAN BERDZIKIR KEPADA ALLAH

10. MEMBERI NAFKAH KEPADA ORANG YANG SEPENUHNYA MENUNTUT ILMU SYART'AT (AGAMA)

11. MENINGGALKAN MAKSIAT, KARENA MAKSIAT MENGHAPUS KEBERKAHAN DAN MENGHILANGKAN RIZKI

12. BERBUAT BAIK KEPADA ORANG-ORANG LEMAH

13. BERBUAT ADIL

14. MENGAMBIL HARTA YANG HALAL DAN MENJAUHI SYUBHAT

15. BERSEGERA DALAM MENCARI ILMU DAN RIZKI

16. BANYAK MEMUJI ALLAH DAN BERSYUKUR KEPADA-NYA SERTA SENANTIASA BERDOA KEPADANYA

17. MELAPANGKAN ORANG YANG KESUSAHAN, MEMBANTU DAN MEMENUHI KEBUTUHAN KAUM MUSLIMIN, MENGASIHI SESAMA MAKHLUK DAN MENOLONG ORANG YANG DIANIAYA

18 JUJUR DALAM BERJUAL BELI

19. DAGANG DAN SAFAR DALAM RANGKA MENGAIS RIZKI

20. MENYEBUT NAMA ALLAH DALAM SELURUH AMAI, PERBUATAN, DAN MENGULANG-ULANGNYA DALAM SEGALA KEADAAN

21. MENDAPATKAN HARTA DENGAN KEMURAHAN JIWA MERUPAKAN SEBAB TURUNNYA BERKAH

22. JIHAD FI SABILLILLAH

23. HIJRAH DI JALAN ALLAH

24. DOA UNTUK KEBERKAHAN, DAN DIKABULKANNYA DI SETIAP KESEMPATAN

25. KEBERKAHAN WAKTU

26. CATATAN PENTING TENTANG PENYEBAB MELIMPAHNYA REZEKI


14. Hidayatul Adzkiya

Pembukaan - المُقَدِّمَةُ

Jalan - ُالطَّرِيْقَة

Di Antaranya adalah Taubat - مِنْهَا التَّوْبَةِ

Dan Di Antaranya adalah Qonaah - وَمِنْهَا القَنَاعَةُ

Dan Di Antaranya adalah Meninggalkan Dunia - وَمِنْهَا الزُّهْدُ

Dan Di Antaranya adalah Belajar Ilmu Syar'i - وَمِنْهَا تَعَلُّمُ الْعِلْمِ الشَّرْعِيّ

Dan Di Antaranya Adalah Menjaga Kesunnahan - وَمِنْهَا الْمُحُافَظَةُ عَلَى السُّنَنِ

شراء الكتب الأكثر مبيعًا على الإنترنتBeli buku terlaris online

Dan Di Antaranya Adalah Tawakkal - وَمِنْهَا التَّوَكُّلُ

Dan Di Antaranya Adalah Ikhlas - وَمِنْهَا الإخْلَاصُ

Dan Di Antaranya Adalah Menyendiri - وَمِنْهَا الْعُزْلَةُ

Menjaga waktu - وَمِنْهَا حِفْظُ الأَوْقَاتِ

Cara Membagi Waktu - كَيْفِيَةُ تَوْزِيْعِ الأَوْقَاتِ

Keutamaan Jamaah - فَضْلُ الْجَمَاعَةِ

Wirid-wirid Setelah Subuh - الْأَوْرَادُ بَعْدَ الصُّبْحِ

Sholat Isyroq -صَلَاةُ الإشْرَاقِ

Baca Quran Termasuk Obat Hati - تِلَاوَةُ الْقُرْآنِ مِنْ أَدْوِيَةِ الْقَلْبِ

Akhlak Yang Bagus Bagi Pembaca Quran - الأخْلاَقُ الحَسَنَةُ لِقَارِئ القُرْآنِ

Sholat Dluha - صَلاَةُ الضُّحَى Beli buku terlaris online

Sibuk Dengan Ilmu - الاشْتِغَالُ بِالعِلْمِ

Keutamaan Ilmu Dan Pelajar -فَضْلُ العِلْمِ وَالمُتَعَلِّمِ

Ulama' su' - عُلَمَاءُ السُّوءِ

Tanda Pelajar Jelek - عَلَاماَتُ طُلَّابِ السُّوْءِ

Tanda Ulama' Alhirat - عَلاَمَاتُ عُلَمَاءِ الآخِرَةِ

Enam Sifat Bagi Ulama' Besar - سِتُّ خِصَالٍ لِكِبَارِ العُلَمَاءِ

Adab Pelajar - آدَابُ المُتَعَلِّمِ

Menentukan Perkara Yang Lebih Utama Dalam Mencari Ilmu | تَحْدِيْدُ الأوْلَوِيَاتِ فِي الاشْتِغَالِ بِالعِلْمِ

Ilmu Cabang | العُلُومُ الفَرْعِيَّةِ

Bahaya Kenyang | آفَاتُ الشَّبْعِ

شراء الكتب الأكثر مبيعًا على الإنترنتBeli buku terlaris online

Tidur Qoilulah Dan Pekerjaan Setelah Dzuhur | القَيْلُولَةِ وَأَعمَالُ مَا بَعْدَ الظُّهْرِ

Adab Tidur | آدَابُ النَّوْمِ

Tahajjud Dan Adab Bangun Tidur | التَّهَجُّدُ وَآدَابُ الاسْتِيقَاظِ

Peringatan | تَذْكِرَةٌ

Penting | مُهِمَّةٌ

Minggu, 20 Mei 2018

Wali Songo Periode Pertama

Sejarah Syekh Subakir





Syekh Subakir berasal dari Iran ( dalam riwayat lain Syekh Subakir berasal dari Rum). Syekh Subakir diutus ke Tanah Jawa bersama-sama dengan Wali Songo Periode Pertama, yang diutus oleh Sultan Muhammad I dari Istambul, Turkey, untuk berdakwah di pulau Jawa pada tahun 1404, mereka diantaranya:



1. Maulana Malik Ibrahim, berasal dari Turki, ahli mengatur Negara.

2. Maulana Ishaq, berasal dari Samarkand, Rusia Selatan, ahli pengobatan.
3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro, dari Mesir.
4. Maulana Muhammad Al Maghrobi, berasal dari Maroko.
5. Maulana Malik Isro’il, dari Turki, ahli mengatur negara.
6. Maulana Muhammad Ali Akbar, dari Persia (Iran), ahli pengobatan.
7. Maulana Hasanudin, dari Palestina.
8. Maulana Aliyudin, dari Palestina.
9. Syekh Subakir, dari Iran, Ahli menumbali daerah yang angker yang dihuni jin jahat.

Ketika Syaikh Subakir sampai di tanah Jawa, beliau bergelar Aji Saka. Beliau lahir di Persia, Iran. Memiliki spesialisasi di bidang Ekologi Islam. Beliau adalah cicit dari sahabat Nabi Muhammad saw, yaitu Salman Al-Farisi. Kemudian beliau menjadi utusan dari Sultan Muhammad 1, sebagai salah satu dari anggota Wali Songo periode 1. Nasab lengkap beliau adalah Syaikh Subakir bin Abdulloh bin Aly bin Ahmad bin Aly bin Ahmad bin Abdulloh bin Ahmad bin Muhammad bin Ahmad bin Aly bin Abubakar bin Salman bin Hasyim bin Ahmad bin Badrudin bin Barkatulloh bin Syafiq bin Badrudin bin Omar bin Aly bin Salman Alfarisiy Syaikh Subakir berdakwah di daerah Magelang Jawa Tengah, dan menjadikan Gunung Tidar sebagai Pesantrennya

Tak banyak orang tahu dan mengenal nama Syekh Subakir. Padahal Syekh Subakir adalah salah seorang ulama Wali Songo periode pertama yang dikirim khalifah dari Kesultanan Turki Utsmaniyah Sultan Muhammad I untuk menyebarkan agama Islam di wilayah Nusantara. 



Syekh Subakir konon adalah seorang ulama besar yang telah menumbal tanah Jawa dari pengaruh negatif makhluk halus saat awal penyebaran ajaran Islam di nusantara. 


Kisahnya dimulai saat Sultan Muhammad I, bermimpi mendapat wangsit untuk menyebarkan dakwah Islam ke tanah Jawa. 

Adapun mubalighnya diharuskan berjumlah sembilan orang. Jika ada yang pulang atau wafat maka akan digantikan oleh ulama lain asal tetap berjumlah sembilan. 

Sehingga dikumpulkanlah beberapa ulama terkemuka dari seluruh dunia Islam waktu itu. Para ulama yang dikumpulkan tersebut mempunyai keahlian masing-masing. Ada yang ahli tata negara, berdakwah, pengobatan, tumbal atau rukyah, dan lain-lain. 

Lalu dikirimlah beberapa ulama ke Nusantara atau tanah Jawa. Namun sudah beberapa kali utusan dari Kesultanan Turki Utsmaniyah yang datang ke tanah Jawa, untuk menyebarkan agama Islam tapi pada umumnya mengalami kegagalan. 

Penyebabnya masyarakat Jawa saat itu sangat memegang teguh kepercayaannya. Sehingga para ulama yang dikirim mendapatkan halangan karena meskipun berkembang tetapi ajaran Agama Islam hanya dalam lingkungan yang kecil, tidak bisa berkembang secara luas. 

Selain itu konon, Pulau Jawa saat itu masih merupakan hutan belantara angker yang dipenuhi makhluk halus dan jin-jin jahat. 

Lalu diutuslah Syekh Subakir ulama asal Persia yang ahli dalam merukyah, ekologi, meteorologi dan geofisika ke tanah Jawa. 

Beliau diutus secara khusus menangani masalah-masalah gaib dan spiritual yang dinilai telah menjadi penghalang diterimanya Islam oleh masyarakat Jawa ketika itu.
Ajaran dan Tempat Meninggal Syeh Subakir ?
3 SITUS MAKAM GUNUNG TIDAR

Hanya butuh waktu kurang dari 30 menit untuk sampai di puncak Tidar. Secara umum, Gunung Tidar memang masih cukup alami. Banyak tanaman pinus dan tanaman buah-buahan tahunan seperti salak hasil penghijauan era tahun 1960an menjadikan Gunung Tidar sangat rimbun.



Beberapa saat menapaki jalanan setapak pendakian kita akan bertemu dengan Makam Syaikh Subakir. Konon Syaikh Subakir adalah penakluk Gunung Tidar yang pertama kali dengan mengalahkan para jin penunggu Gunung Tidar tersebut. Menurut legenda (hikayat) Gunung Tidar, Syaikh Subakir berasal dari negeri Turki yang datang ke Gunung Tidar bersama kawannya yang bernama Syaikh Jangkung untuk menyebarkan agama Islam.

Tidak jauh dari Makam Syaikh Subakir, kita akan berjumpa dengan sebuah makam yang panjangnya mencapai 7 meter. Itulah Makam Kyai Sepanjang. Kyai Sepanjang bukanlah sesosok alim ulama, namun adalah nama tombak yang dibawa dan dipergunakan oleh Syaikh Subakir mengalahkan jin penunggu Gunung Tidar kala itu.

Situs makam terakhir yang kita jumpai sewaktu mendaki Gunung Tidar adalah Makam Kyai Semar. Namun menurut beberapa versi ini bukanlah makam kyai Semar yang ada dalam pewayangan. Tetapi Kyai Semar, jin penunggu Gunung Tidar waktu itu. Meski demikian banyak yang percaya ini memang makam Kyai Semar yang ada dalam pewayangan itu. Dan mana yang benar, adalah tinggal kita mau mempercayai yang mana.
Syaikh Subakir meninggal di Persia Iran. Sedangkan yang ada di Indonesia dan diziarahi oleh masyarakat adalah situs-situs peninggalannya. Ada beberapa karya Syaikh Subakir yang bergelar Aji Saka, yaitu: 
1. Beliau adalah penemu Huruf Jawa, yang berbunyi: HA NA CA RA KA, DA TA SA WA LA, PA DHA JA YA NYA, MA GA BA THA NGO 
2. Beliau pula yang memberi nama Jawa, yang diambil dari bahasa Suryani artinya Tanah Yang Subur. Pelajaran dari Kisah Syaikh Subakir adalah: 
3. Kita harus memperkuat Aqidah Islam kita, 
4. Jangan mudah percaya pada takhayyul, bid’ah dan khurafat, yang dibungkus oleh cerita yang tidak jelas sumbernya, 
5. Jangan mudah terjerumus pada mistik yang menghancurkan sendi-sendi aqidah Islam, 
6. Pahami bahwa Syaikh Subakir adalah manusia biasa, hamba Allah, seorang waliyullah yang berdakwah untuk menyiarkan Islam, amar ma’ruf, Nahi Munkar 
7. Pahami bahwa Syaikh Subakir adalah tokoh yang sangat memperdulikan lingkungan, dan kelestarian alam, dan bukan memasang tumbal atau jimat. 
8. Jangan percaya kepada tumbal atau jimat, karena hal ini adalah Syirik. Cerita tentang tumbal, jimat atau perang melawan jin yang dihubungkan kepada Syaikh Subakir adalah kebohongan yang besar. 
9. Jagalah kemurnian aqidah Islam kita, Syari’at Islam kita dan akhlak Islam kita. Agar kita senantiasa mendapat Ridha dari Allah SWT.

Sumber:1.http://wiyonggoputih.blogspot.com
2.http://blogjombangan.blogspot.com
3.http://daerah.sindonews.com
4.http://keluargaumarfauzi.blogspot.co.id

Rabu, 10 Mei 2017

NISFU SYA’BAN DAN AMALAN-AMALANNYA


KEUTAMAAN DIBULAN NISFU SYA’BAN

أخبرنا أبو عبد الله الحافظ, و أبو عبد الله إسحاق بن محمّد بن يوسف السوس و أبو بكر محمّد بن الحسن , قالوا : أخبرنا أبو العباس محمّد بن يعقوب , قال : حدّثنا يزيد بن محمّد بن عبد الصمد الدمسقي, قال : حدّثنا هشام بن خالد, قال: حدّثنا أبو خليد – وهو عتبة بن حمّاد- عن الأوزعي, و ابن ثابت – وهو عبد الرحمن بن ثابت بن ثوبان – عن أبيه عن مكحول عن مالك بن يخامر عن معاذ بن جبل عن النبي صلى الله عليه وسلم : ( يطلع الله تبارك و تعالى إلى خلقه فى ليلة النصف من شعبان, فيغفر لجميع خلقه إلا لمشرك أو مشاحن ).
           ‘’ Telah mengabarkan kepada kami abu abdillah al-hafidh, dan abu abdillah ishaq bin Muhammad bin yusuf as-sus dan abu bakar Muhammad bin al-hasan, mereka berkata : telah mengabarkan kepada kami abu al-‘abbas Muhammad bin ya’qub, berkata : telah menceritakan kepada kami yazid bin uhammad bin abdishomad al-dimasqy, berkata : telah menceritakan kepada kami hisyam bin kholid, berkata: telah menceritakan kepada kami abu khulaid ( ngutbah bin hammad ) – dari al-auza’I, dan ibni tsabit ( abdrurrahman bin tsabit bin tsauban ) – dari bapak-nya, dari makhul, dari malik bin yakhamir, dari mu’adz bin jabal, dari nabi Muhammad shollallahu ‘alahi wasallam, bersabda: ( sesungguhnya pada malam nisfu sya’ban ( pertengahan bulan sya’ban ) allah akan melihat makhluknya, lalu allah akan mengampuni kesalahan seluruh makhluknya, kecuali orang yg musyrik atau orang yg bertengkar )’’( fadhail al-awqat – imam abi bakar ahmad bin Husain al-baihaqi – wafat thn 458 H. ).
حدثنا الحسن بن علي الخلال, حدثنا عبد الرزاق, أنبأنا ابن أبي سبرة عن إبراهيم بن محمد عن معاوية بن عبد الله بن جعفرعن أبيه عن علي بن أبى طالب رضي الله عنه, قال : قال رسول الله عليه و سلم : ( إذا كان ليلة النصف من شعبان فقومو ليلتها, و صوموا نهارها, فإن الله ينزل فيها لغروب الشمس إلى سماء الدنيا , فيقول : ألا من مستغفر لى فأغفر له, ألا مسترزق فأرزقه, ألا مبتلى فأعافيه, ألا كذاو ألا كذا حتى يطلع الفجر)
                 Telah menceritakan kepada kami al-hasan bin ali al-khalal, telah menceritakan kepada kami abdurazzaq, telah memberitakan kepada kami ibnu abi sabrah, dari Ibrahim bin Muhammad dari muawiyah bin abdillah bin ja’far dari bapak-nya dari sayyidina ali bin abi thalib ra., berkata : rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : ( apabila malam nisfu sya’ban ( pertengahan bulan sya’ban ) telah tiba, maka shalatlah di malah harinya, dan berpuasalah di siang hari, sesungguhnya allah turun ke langit bumi pada saat itu ketika matahari terbenam, kemudian allah berfirman : adakah orang yg meminta ampunan kepada-ku, maka aku mengampuninya ? adakah orang yg minta rezeki, maka aku akan memberinya rezeki ? adakah orang yg mendapat cobaan, maka aku akan menyembuhkannya? Adakah begini….dan adakah begini….hingga terbitnya fajar ).
حدثناعبدة بن عبد الله الخزاعي و محمد بن عبد الملك أبو بكر قالا : حدثنا يزيد بن هارون, أنبأنا حجاج عن يحيى بن أبى كثير عن عروة عن عائشة قالت: فقدت النبي صلى الله عليه و سلم ذات ليلة, فخرجت أطلبه فإذا هو بالبقيع رافع رأسه إلى السماء , فقال: ( ياعائشة , أكنت تخافين أن يحيف الله عليك ورسوله ؟ ), قالت : قد قلت : و ما بي ذلك ؟ و لكنّى ظننت أنّك أتيت بعض نسائك , فقال : ( إن الله تعالى ينزل ليلة النصف من شعبان إلى السماء الدنيا , فيغفر لأكثر من عدد شعر غنم كلب )
                 Telah menceritakan kepada kami abdah bin abdillah al-khuza’I dan Muhammad bin abdil malik abu bakar, keduanya berkata: telah menceritakan kepada kami yazid bin harun, telaha memberitakan kepada kami hajjaj dari yahya bin abi katsir , dari urwah, dari aisyah RA., dia berkata ; ( suatu malam aku kehilangan nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, maka aku pun keluar dan mencarinya, ternyata beliau berada di baqi’ menengadahkan kepalanya ke langit , beliau lalu bersabda ; wahai aisyah, apakah engkau takut allah dan rasulu-nya mengurangi ( hakmu ) atasmu?’’ ia menjawab : aku telah mengatakan tidak , hanya saja aku khawatir engkau mendatangi seorang dari istrimu. Maka beliau pun bersabda : sesungguhnya pada malam nisfu sya’ban allah akan turun ke langit bumi, lalu allah mengampuni orang-orang yg lebih bayak dari jumlah bulu kambing ).( RH. Ibnu majah-wafat 275 H. ).

Fadhilah / Keutamaan
  1. Dalam Kitab Shahih Ibnu Hibban juz 12 halaman 481, hadits nomor 5665  :
أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُعَافَى اَلْعَابِدُ بِصَيْدَا وَابْنُ قُتَيْبَةَ وَغَيْرُهُ قَالُوْا : حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ خَالِدٍ اَلْأَزْرَقُ قَالَ : حَدَّثَنَا أَبُوْ خُلَيْدٍ عُتْبَةُ بْنُ حَمَّادٍ عَنِ الْأَوْزَاعِيِّ وَابْنِ ثَوْبَانَ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ مَكحُوْلٍ عَنْ مَالِكِ بْنِ يُخَامِرَ عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : يَطَّلِعُ اللهُ إِلَى خَلْقِهِ فِيْ لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيْعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ ……
                   dari shahabat Mu’adz bin Jabal dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda : “Sesungguhnya Allah akan mengawasi makhluq-Nya di malam Nishfu Sya’ban kemudian mengampuni semua makhluk-Nya kecuali orang musyrik atau orang yang bermusuhan”. Link :
  Catatan : Al Hafizh Al-Haitsami berkata dalam kitab Majma’uzzawaid juz VIII halaman 126, hadits nomor 12860 :
رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ فِي الْكَبِيْرِ وَالْأَوْسَطِ وَرِجَالُهُمَا ثِقَاتٌ
  1. Aththabarani dalam (Mu’jam) Al Kabir dan (Mu’jam) Al Ausath. Rijal (para perawi) keduanya tsiqah. Link :

Catatan : Hadits diatas juga diriwayatkan oleh Imam Ath Tabarani dalam “Musnad Asysyaamiyyiin” juz IV halaman 365, hadits nomor 3570 :
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِيْ زُرْعَةَ ثَنَا هِشَامُ بْنُ خَالِدٍ ثَنَا عُتْبَةُ بْنُ حَمَّادٍ عَنِ الْأَوْزَاعِيِّ وَابْنِ ثَوْبَانَ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ مَكْحُوْلٍ عَنْ مَالِكِ بْنِ يُخَامِرَ عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ عَنِ النَّبِيِّ قَالَ : يَطَّلِعُ اللهُ إِلَى خَلْقِهِ فِيْ لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيْعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ
  1. Dalam Kitab Sunan Ibnu Majah juz I halaman 444, hadits nomor 1388 :
حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ الْخَلَّالُ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَنْبَأَنَا ابْنُ أَبِي سَبْرَةَ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ جَعْفَرٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَقُومُوا لَيْلَهَا وَصُومُوا نَهَارَهَا فَإِنَّ اللهَ يَنْزِلُ فِيهَا لِغُرُوبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُولُ أَلَا مِنْ مُسْتَغْفِرٍ لِي فَأَغْفِرَ لَهُ أَلَا مُسْتَرْزِقٌ فَأَرْزُقَهُ أَلَا مُبْتَلًى فَأُعَافِيَهُ أَلَا كَذَا أَلَا كَذَا حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ …..
                  Dari shahabat Ali bin Abi Thalib, beliau berkata: Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila ada malam nishfu Sya’ban maka shalatlah di malam harinya dan berpuasalah di siang harinya. Sesungguhnya Allah turun ke langit bumi pada saat itu ketika matahari terbenam, Dia berfirman: “Adakah orang yang meminta ampun kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya? Adakah orang yang meminta rizki maka Aku akan memberinya rizki? Adakah orang yang mendapat cobaan maka Aku akan menyembuhkannya? Adakah yang begini, dan adakah yang begini ..begini…hingga terbit “.

Catatan : Al Hafizh Ibn Rajab dalam kitab Lathaa`iful Ma’aarif (juz I halaman 151, maktabah syamilah) menilai bahwa sanad hadits diatas adalah dha’if Berikut teks selengkapnya:
فَفِيْ سُنَنِ ابْنِ مَاجَهْ بِإِسْنَادٍ ضَعِيْفٍ عَنْ عَلِيٍّ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَقُومُوا لَيْلَهَا وَصُومُوا نَهَارَهَا فَإِنَّ اللهَ يَنْزِلُ فِيهَا لِغُرُوبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُولُ أَلَا مِنْ مُسْتَغْفِرٍ لِي فَأَغْفِرَ لَهُ أَلَا مُسْتَرْزِقٌ فَأَرْزُقَهُ أَلَا مُبْتَلًى فَأُعَافِيَهُ أَلَا كَذَا أَلَا كَذَا حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ

Catatan : Syeikh Muhammad bin Abdurrahman bin Abdurrahim al Mubaarakfuuri dalam Kitab Tuhfadzul Ahwadzi, Syarh Sunan Tirmidzi (juz III halaman 367, maktabah syamilah) , beliau mengomentari hadits-hadits yang menerangkan keutamaan malam Nishfu Sya’ban sebagai berikut:
فَهَذِهِ اْلأَحَادِيثُ بِمَجْمُوعِهَا حُجَّةٌ عَلَى مَنْ زَعَمَ أَنَّهُ لَمْ يَثْبُتْ فِي فَضِيْلَةِ لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ شَيْءٌ وَاللهُ تَعَالَى أَعْلَمُ .
“Hadits-hadits di atas secara keseluruhan merupakan sebuah hujjah yang membantah anggapan sebagian ulama yang berpendapat bahwa tidak ada satupun dalil kuat yang menjelaskan tentang keutamaan malam nishfu Sya’ban”.

  1. Dalam kitab Nuzhatul Majaalis wa Muntakhabun Nafaa`is, karya Syeikh Abdurrahman Ashafuuri Asysyafi’i, halaman 147 :
قَالَ عَطَاءُ بْنُ يَسَارٍ مَا بَعْدَ لَيْلَةِ الْقَدْرِ أَفْضَلُ مِنْ لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ وَهِيَ مِنَ اللَّيَالِى الَّتِيْ يُسْتَجَابُ فِيْهَا الدُّعَاءُ
Imam Atha` bin Yasar berkata : “Tidak ada malam yang lebih utama setelah Lailatul Qadar dibandingkan dengan Nishfu Sya’ban. Ia merupakan salah satu malam yang mana doa didalamnya mustajab” . Link :

  1. Imam Syafi’i berkata dalam kitab Al Umm juz I halaman 264 :
وَبَلَغَنَا أَنَّهُ كَانَ يُقَالُ: إِنَّ الدُّعَاءَ يُسْتَجَابُ فِيْ خَمْسِ لَيَالٍ فِيْ لَيْلَةِ الْجُمُعَةِ وَلَيْلَةِ الْأَضْحَى وَلَيْلَةِ الْفِطْرِ وَأَوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَجَبٍ وَلَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ
Telah sampai kepada kami, bahwasanya dikatakan : “Sesungguhnya doa mustajab didalam 5 (lima) malam;
  1. Malam Jum’at
  2. Malam Idul Adha
  3. Malam Idul Fitri
  4. Malam tanggal 1 Rojab
  5. Malam Nishfu Sya’ban.

  1. Al Hafidh Ibnu Rajab dalam kitab Lathaa’iful Ma’aarif (juz I halaman 151, maktabah syamiilah) mengatakan :
وَلَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ كَانَ التَّابِعُوْنَ مِنْ أَهْلِ الشَّامِ كَخَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ وَمَكْحُوْلٍ وَلُقْمَانَ بْنِ عَامِرٍ وَغَيْرِهِمْ يُعَظِّمُوْنَهَا وَ يَجْتَهِدُوْنَ فِيْهَا فِي الْعِبَادَةِ
“Malam Nishfu Sya’ban adalah para tabi’in dari penduduk Syam, seperti Khaalid bin Ma’daan, Mak_huul, Luqman bin Amir dan lainnya mereka mengagungkannya dan bersungguh-sungguh pada malam itu dengan beribadah.”
Selanjutnya Al Hafidh Ibnu Rajab berpesan :
فَيَنْبَغِيْ لِلْمُؤْمِنِ أَنْ يَتَفَرَّغَ فِي تِلْكَ اللَّيْلَةِ لِذِكْرِ اللهِ تَعَالَى وَدُعَائِهِ بِغُفْرَانِ الذُّنُوْبِ
“Maka seyogyanya bagi orang mukmin untuk mencurahkan pada malam itu untuk berdzikir kepada Allah dan berdoa agar diampuni dosa-dosanya”. Link :
وَاللهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ


AMALAN MALAM NISFU SYA’BAN
Membaca surah yasiin sebanyak 3x sesudah sembahyang sunat ba’diah maghrib dengan Niat sebagai berikut:
  1. NIAT YANG PERTAMA
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIIM. Ya Allah Ya Tuhanku ampunilah segala Dosaku dan Dosa ibu bapaku dan Dosa keluargaku dan dosa jiranku dan Dosa muslimin dan muslimat, dan panjangkanlah umurku di dalam tha’at ibadat kepada engkau dan kuatkanlah imanku dengan berkat surat Yasiin.
  1. NIAT YANG KE DUA
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIIM. Ya ALLAH YA TUHANKU ampunilah segala dosaku dan dosa ibu bapaku dan dosa keluargaku dan dosa tetangga2ku dan dosa muslimin dan muslimat, dan peliharakanlah diriku dari segala kebinasaan dan penyakit, dan kabullanlah hajatku dengan berkat surat Yasiin.
  1. NIAT YANG KETIGA
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIIM. YA ALLAH YA TUHANKU ampunilah segala dosaku dan dosa ibu bapaku dan dosa keluargaku dan dosa jiranku dan dosa muslimin dan muslimat, dan kayakanlah hatiku dari segala makhluk dan berilah aku dan kelurgaku dan jiranku HUSNUL KHATIMAH dengan berkat surat Yasiin.
              Mengenai doa dimalam nisfu sya’ban adalah sunnah Rasul saw, sebagaimana hadits2 berikut :
Sabda Rasulullah saw : “Allah mengawasi dan memandang hamba hamba Nya di malam nisfu sya’ban, lalu mengampuni dosa dosa mereka semuanya kecuali musyrik dan orang yg pemarah pada sesama muslimin” (Shahih Ibn Hibban hadits no.5755)
berkata Aisyah ra : disuatu malam aku kehilangan Rasul saw, dan kutemukan beliau saw sedang di pekuburan Baqi’, beliau mengangkat kepalanya kearah langit, seraya bersabda : “Sungguh Allah turun ke langit bumi di malam nisfu sya’ban dan mengampuni dosa dosa hamba Nya sebanyak lebih dari jumlah bulu anjing dan domba” (Musnad Imam Ahmad hadits no.24825)
berkata Imam Syafii rahimahullah : “Doa mustajab adalah pada 5 malam, yaitu malam jumat, malam idul Adha, malam Idul Fitri, malam pertama bulan rajab, dan malam nisfu sya’ban” (Sunan Al Kubra Imam Baihaqiy juz 3 hal 319).
dengan fatwa ini maka kita memperbanyak doa di malam itu, jelas pula bahwa doa tak bisa dilarang kapanpun dan dimanapun, bila mereka melarang doa maka hendaknya mereka menunjukkan dalilnya?,
bila mereka meminta riwayat cara berdoa, maka alangkah bodohnya mereka tak memahami caranya doa, karena caranya adalah meminta kepada Allah,
pelarangan akan hal ini merupakan perbuatan mungkar dan sesat, sebagaimana sabda Rasulullah saw : “sungguh sebesar besarnya dosa muslimin dg muslim lainnya adalah pertanyaan yg membuat hal yg halal dilakukan menjadi haram, karena sebab pertanyaannya” (Shahih Muslim).
disunnahkan malam itu untuk memperbanyak ibadah dan doa, sebagaimana di Tarim para Guru Guru mulia kita mengajarkan murid muridnya untuk tidak tidur dimalam itu, memperbanyak Alqur’an doa, dll
Pada malam tanggal 15 Sya’ban (Nisfu Sya’ban) telah terjadi peristiwa penting dalam sejarah perjuangan umat Islam yang tidak boleh kita lupakan sepanjang masa. Di antaranya adalah perintah memindahkan kiblat salat dari Baitul Muqoddas yang berada di Palestina ke Ka’bah yang berada di Masjidil Haram, Makkah pada tahun ke delapan Hijriyah.
Sebagaimana kita ketahui, sebelum Nabi Muhammad hijrah ke Madinah yang menjadi kiblat salat adalah Ka’bah. Kemudian setelah beliau hijrah ke Madinah, beliau memindahkan kiblat salat dari Ka’bah ke Baitul Muqoddas yang digunakan orang Yahudi sesuai dengan izin Allah untuk kiblat salat mereka. Perpindahan tersebut dimaksudkan untuk menjinakkan hati orang-orang Yahudi dan untuk menarik mereka kepada syariat al-Quran dan agama yang baru yaitu agama tauhid.
Tetapi setelah Rasulullah saw menghadap Baitul Muqoddas selama 16-17 bulan, ternyata harapan Rasulullah tidak terpenuhi. Orang-orang Yahudi di Madinah berpaling dari ajakan beliau, bahkan mereka merintangi Islamisasi yang dilakukan Nabi dan mereka telah bersepakat untuk menyakitinya. Mereka menentang Nabi dan tetap berada pada kesesatan.
Karena itu Rasulullah saw berulang kali berdoa memohon kepada Allah swt agar diperkenankan pindah kiblat salat dari Baitul Muqoddas ke Ka’bah lagi, setelah Rasul mendengar ejekan orang-orang Yahudi yang mengatakan, “Muhammad menyalahi kita dan mengikuti kiblat kita. Apakah yang memalingkan Muhammad dan para pengikutnya dari kiblat (Ka’bah) yang selama ini mereka gunakan?”
Ejekan mereka ini dijawab oleh Allah swt dalam surat al Baqarah ayat 143:
وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِى كُنْتَ عَلَيْهَا إلاَّ لِيَعْلَمَ مَنْ يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّنْ يَنْقَلِبُ عَلَى عَقِبَيْهِ.
Dan kami tidak menjadikan kiblat yang menjadi kiblatmu, melainkan agar kami mengetahui siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot…
Dan pada akhirnya Allah memperkenankan Rasulullah saw memindahkan kiblat salat dari Baitul Muqoddas ke Ka’bah sebagaimana firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 144.
Diantara kebiasaan yang dilakukan oleh umat Islam pada malam Nisfu Sya’ban adalah membaca surat Yasin tiga kali yang setiap kali diikuti doa yang antara lain isinya adalah:
“Ya Allah jika Engkau telah menetapkan aku di sisi-Mu dalam Ummul Kitab (buku induk) sebagai orang celaka atau orang-orang yang tercegah atau orang yang disempitkan rizkinya maka hapuskanlah ya Allah demi anugerah-Mu, kecelakaanku, ketercegahanku, dan kesempitan rizkiku..”
Bacaan Yasin tersebut dilakukan di masjid-masjid, surau-surau atau di rumah-rumah sesudah salat maghrib.
Sebagian dari orang-orang yang mengaku ahli ilmu telah menganggap ingkar perbuatan tersebut, menuduh orang-orang yang melakukannya telah berbuat bid’ah dan melakukan penyimpangan terhadap agama karena doa dianggap ada kesalahan ilmiyah yaitu meminta penghapusan dan penetapan dari Ummul Kitab. Padahal kedua hal tersebut tidak ada tempat bagi penggantian dan perubahan.
Tanggapan mereka ini kurang tepat, sebab dalam syarah kitab hadist Arbain Nawawi diterangkan bahwa takdir Allah swt itu ada empat macam:
  1. Takdir yang ada di ilmu Allah. Takdir ini tidak mungkin dapat berubah, sebagaimana Nabi Muhammad saw bersabda:
لاَيَهْلِكُ اللهُ إلاَّ هَالِكًا
“Tiada Allah mencelakakan kecuali orang celaka, yaitu orang yang telah ditetapkan dalam ilmu Allah Taala bahwa dia adalah orang celaka.”
  1. Takdir yang ada dalam Lauhul Mahfudh. Takdir ini mungkin dapat berubah, sebagaimana firman Allah dalam surat ar-Ra’du ayat 39 yang berbunyi:
يَمْحُو اللهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الكِتَابِ.
“Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan apa yang dikehendaki, dan di sisi-Nyalah terdapat Ummul Kitab (Lauhul Mahfudz).”
Dan telah diriwayatkan dari Ibnu Umar, bahwa beliau mengucapkan dalam doanya yaitu “Ya Allah jika engkau telah menetapkan aku sebagai orang yang celaka maka hapuslah kecelakaanku, dan tulislah aku sebagai orang yang bahagia”.
  1. Takdir dalam kandungan, yaitu malaikat diperintahkan untuk mencatat rizki, umur, pekerjaan, kecelakaan, dan kebahagiaan dari bayi yang ada dalam kandungan tersebut.
  2. Takdir yang berupa penggiringan hal-hal yang telah ditetapkan kepada waktu-waktu yang telah ditentukan. Takdir ini juga dapat diubah sebagaimana hadits yang menyatakan: “Sesungguhnya sedekah dan silaturrahim dapat menolak kematian yang jelek dan mengubah menjadi bahagia.” Dalam salah satu hadits Nabi Muhammad saw pernah bersabda,
إنَّ الدُّعَاءَ وَالبَلاَءَ بَيْنَ السَّمَاءِ والاَرْضِ يَقْتَتِلاَنِ وَيَدْفَعُ الدُّعَاءُ البَلاَءَ قَبْلَ أنْ يَنْزِلَ.
“Sesungguhnya doa dan bencana itu diantara langit dan bumi, keduanya berperang; dan doa dapat menolak bencana, sebelum bencana tersebut turun.”
Diantara kebiasaan kaum muslimin pada malam Nisfu Sya’ban adalah melakukan salat pada tengah malam dan datang ke pekuburan untuk memintakan maghfirah bagi para leluhur yang telah meninggal dunia. Kebiasaan seperti ini adalah berdasar dari amal perbuatan atau sunnah Nabi Muhammad saw. Antara lain ada hadist yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dalam Musnadnya dari Sayidah Aisyah RA, yang artinya kurang lebih sebagai berikut:
“Pada suatu malam Rasulullah saw berdiri melakukan salat dan beliau memperlama sujudnya, sehingga aku mengira bahwa beliau telah meninggal dunia. Tatkala aku melihat hal yang demikian itu, maka aku berdiri lalu aku gerakkan ibu jari beliau dan ibu jari itu bergerak lalu aku kembali ke tempatku dan aku mendengar beliau mengucapkan dalam sujudnya: “Aku berlindung dengan maaf-Mu dari siksa-Mu; aku berlindung dengan kerelaan-Mu dari murka-Mu; dan aku berlindung dengan Engkau dari Engkau. Aku tidak dapat menghitung sanjungan atas-Mu sebagaimana Engkau menyanjung atas diri-Mu.” Setelah selesai dari salat beliau bersabda kepada Aisyah, “Ini adalah malam Nisfu Sya’ban. Sesungguhnya Allah ‘azza wajalla berkenan melihat kepada para hamba-Nya pada malam Nisfu Sya’ban, kemudian mengampunkan bagi orang-orang yang meminta ampun, memberi rahmat kepada orang-orang yang memohon rahmat, dan mengakhiri ahli dendam seperti keadaan mereka.”
Nabi Muhammad saw pada malam Nisfu Sya’ban berdoa untuk para umatnya, baik yang masih hidup maupun mati. Dalam hal ini Sayidah Aisyah RA meriwayatkan hadits:
إنَّهُ خَرَجَ فِى هَذِهِ اللَّيْلَةِ إلَى الْبَقِيعِ فَوَجَدْتُهُ يَسْتَغْفِرُ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ وَالشُّهَدَاءِ.
“Sesungguhnya Nabi Muhammad saw telah keluar pada malam ini (malam Nisfu Sya’ban) ke pekuburan Baqi’ (di kota Madinah) kemudian aku mendapati beliau (di pekuburan tersebut) sedang memintakan ampun bagi orang-orang mukminin dan mukminat dan para syuhada.”
Banyak hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal, at-Tirmidzi, at-Tabrani, Ibn Hibban, Ibn Majah, Baihaqi, dan an-Nasa’i bahwa Rasulullah saw menghormati malam Nisfu Sya’ban dan memuliakannya dengan memperbanyak salat, doa, dan istighfar.

Selasa, 28 Maret 2017

KEISTIMEWAAN DAN KEMULIAAN BULAN RAJAB

Dalam hitungan kalender hijriyah, bulan rajab merupakan bulan ketujuh. Bulan ini termasuk salah satu bulan haram (suci) dan/atau bulan yang dimuliakan. Karena merupakan bulan haram, maka tidak heran jika dikalangan masyarakat muslim banyak yang melakukan amal-amalan ketaatan di bulan ini, termasuk menunaikan puasa sunnah rajab.

Terdapat 4 (empat) bulan haram yang dikenal tradisi Islam, ketiganya secara berurutan adalah: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan satunya adalah bulan Rajab. Beberapa alasan kenapa bulan-bulan tersebut dinamakan bulan haram adalah :

    Pada bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan. Orang-orang Jahiliyyah pun meyakini demikian.
    Pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan daripada bulan yang lainnya karena mulianya bulan itu. Demikian pula pada saat itu sangatlah baik untuk melakukan amalan ketaatan. (Lihat Zaadul Masiir, tafsir surat At Taubah ayat 36)

Allah SWT berfirman :
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

    Artinya :
    Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu Menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa. (QS. At-Taubah : 36)

Keutamaan Puasa Rajab
Hadis-hadis Nabi yang menganjurkan atau memerintahkan berpuasa dalam bulan- bulan haram (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab) itu cukup menjadi hujjah atau landasan mengenai keutamaan puasa di bulan Rajab.

Diriwayatkan dari Mujibah al-Bahiliyah, Rasulullah bersabda “Puasalah pada bulan-bulan haram.” (Riwayat Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad). Hadis lainnya adalah riwayat al-Nasa’i dan Abu Dawud (dan disahihkan oleh Ibnu Huzaimah): “Usamah berkata pada Nabi Muhammad Saw, “Wahai Rasulallah, saya tak melihat Rasul melakukan puasa (sunnah) sebanyak yang Rasul lakukan dalam bulan Sya’ban. Rasul menjawab: ‘Bulan Sya’ban adalah bulan antara Rajab dan Ramadan yang dilupakan oleh kebanyakan orang.’ ”

Menurut as-Syaukani dalam Nailul Authar, dalam bahasan puasa sunnah, ungkapan Nabi, “Bulan Sya’ban adalah bulan antara Rajab dan Ramadan yang dilupakan kebanyakan orang” itu secara implisit menunjukkan bahwa bulan Rajab juga disunnahkan melakukan puasa di dalamnya.

Keutamaan berpuasa pada bulan haram juga diriwayatkan dalam hadis sahih imam Muslim. Bahkan berpuasa di dalam bulan-bulan mulia ini disebut Rasulullah sebagai puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan. Nabi bersabda : “Seutama-utama puasa setelah Ramadan adalah puasa di bulan-bulan al-muharram (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab).

Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumid-Din menyatakan bahwa kesunnahan berpuasa menjadi lebih kuat jika dilaksanakan pada hari-hari utama (al-ayyam al-fadhilah). Hari- hari utama ini dapat ditemukan pada tiap tahun, tiap bulan dan tiap minggu. Terkait siklus bulanan ini Al-Ghazali menyatakan bahwa Rajab terkategori al-asyhur al-fadhilah di samping dzulhijjah, muharram dan sya’ban. Rajab juga terkategori al-asyhur al-hurum di samping dzulqa’dah, dzul hijjah, dan muharram.
dari : http://www.panggilandarisurau.com/

Senin, 26 Desember 2016

Karomah Imam Abul Hasan 'Ali Asy Syadzili RA

Sulthonul Auliya’ Syaikh Abul Hasan 'Ali Asy Syadzili ra. adalah seorang yang dianugerahi karomah yang sangat banyak, tidak ada yang bisa menghitung karomahnya kecuali Allah SWT. Dan sebagian dari karomah beliau antara lain adalah :
  1. Allah SWT menganugerahkan kepada beliau kunci seluruh Asma-Asma, sehingga seandainya seluruh manusia dan jin menjadi penulis beliau (untuk menulis ilmu-ilmu beliau) mereka akan lelah dan letih, sedangkan ilmu beliau belum habis.
  2. Beliau adalah sangat terpuji akhlaqnya, sifat mudah menolong dan kedermawanannya dari sejak usia anak-anak sampai ketika umur enam tahun telah mengenyangkan orang-orang yang kelaparan pada penduduk Negara
  3. Tunisia dengan uang yang berasal dari alam ghoib (uang pemberian Allah secara langsung kepada beliau.
  4. Beliau didatangi Nabiyulloh Khidir as untuk menetapkan “wilayatul 'adzimah” kepada beliau (menjadi seorang wali yang mempunyai kedudukan tinggi) ketika beliau baru berusia enam tahun.
  5. Beliau bisa mengetahui batin isi hati manusia 5.Beliau pernah berbicara dengan malaikat dihadapan murid-muridnya.
  6. Beliau menjaga murid-muridnya meskipun di tempat yang jauh.
  7. Beliau mampu memperlihatkan/menampakkan ka’bah dari negara Mesir
  8. Beliau tidak pernah putus melihat/menjumpai Lailatul Qodar semenjak usia baligh hingga wafatnya beliau. Sehingga beliau berkata : Apabila Awal Puasa ramadhan jatuh pada hari Ahad maka Lailatul Qodarnya jatuh pada malam 29, Awal Puasa pada hari Senin Lailatul Qodarnya malam 21, Awal puasa pada hari Selasa Lailatul Qodarnya malam 27, Awal puasa pada hari Rabu Lailatul Qodarnya malam 19, awal puasa pada hari Kamis Lailatul Qodarnya malam 25, awal puasa pada hari jum’at maka Lailatul Qodarnya pada malam 17, sedangkan bila awal puasa pada hari Sabtu maka Lailatul Qodarnya jatuh pada malam 23.
  9. Barang siapa yang meninggal dan dikubur sama dengan hari meninggal dan dikuburkannya beliau, maka Allah akan mengampuni seluruh dosanya.
  10. Doa Beliau Mustajabah (dikabulkan oleh Allah SWT)
  11. Beliau tidak pernah terhalang sekejap mata pandangannya dari Rasulullah saw selama 40 tahun (artinya beliau selalu berjumpa dengan Rasulullah selama 40 tahun).
  12. Beliau dibukakan (oleh Allah) bisa melihat lembaran buku murid-murid yang masuk kedalam thoriqohnya, padahal lebar bukunya tersebut berukuran sejauh mata memandang. Hal ini berlaku bagi orang yang langsung baiat kepada beliau dan juga bagi orang sesudah masa beliau sampai dengan akhir zaman. Dan seluruh murid-muridnya (pengikut thoriqohnya) diberi karunia bebas dari neraka. Syaikh Abul Hasan Asy Syadzili ra sungguh telah digembirakan diberi karunia, barang siapa yang melihat beliau dengan rasa cinta dan rasa hormat tidak akan mendapatkan celaka.
  13. Beliau menjadi sebab keselamatan murid-muridnya/pengikutnya (akan memberikan syafaat di akhirat).
  14. Beliau berdo’a kepada Allah SWT, agar menjadikan tiap-tiap wali Qutub sesudah beliau sampai akhir zaman diambil dari golongan thoriqohnya. Dan Allah telah mengabulkan Do’a beliau tersebut. Maka dari itu wali Qutub sesudah masa beliau sampai akhir zaman diambil dari golongan pengikut beliau.
  15. Syaikh Abul Abbas Al Mursi ra berkata : “Apabila Allah SWT menurunkan bala/bencana yang bersifat umum maka pengikut thoriqoh syadziliyah akan selamat dari bencana tersebut sebab karomah syaikh Abul Hasan Asy Syadzili ra”.
  16. Syaikh Syamsudin Al-Hanafi ra mengatakan bahwa: pengikut thoriqoh syadziliyah dikaruniai kemulyaan tiga macam yang tidak diberikan pada golongan thoriqoh yang lainnya : a. Pengikut thoriqoh Syadziliyah telah dipilih di lauhil mahfudz. b. Pengikut thgoriqoh syadziliyah apabila jadzab/majdub akan cepat kembali seperti sedia kala. c. Seluruh Wali Qutub yang diangkat sesudah masa syaikh Abul Hasan Asy Syadzili ra akan diambil dari golongan ahli thoriqoh Sadziliyah.
  17. Apabila beliau mengasuh/mengajar murid-muridnya sebentar saja, sudah akan terbuka hijab.
  18. Rasulullah saw memberikan izin bagi orang yang berdo’a Kepada Allah SWT dengan bertawasul kepada Syaikh Abul Hasan Asy Syadzili.

Sumber : “Tanwirul Ma’ali manaqibi Ali bin Abil Hasan Asy Syadzili“ karya Syaikh Muhammad Nahrowi (mbah Dalhar) bin Abdurrahman, Watu Congol, Muntilan – Magelang.
http://muhtadiblog.blogspot.co.id