Contoh Marquee dari bawah ke atas

Kegiatan Studi Tour Ke Museum Fatahilah Jakarta

Kegembiraan dan keceriaan Siswa-Siswi MTs Darul Hikmah Setibanya di Alun-Alun Museum Fatahilah Jakakrta, di dampingi oleh Pembina OSIS (Hasbi,S.Pdi)

Kegiatan Ujian Nasional Tahun 2015

Hari ke-2 Selasa,5 Mei 2015 sebanyak 48 Siswa-Siswi MTs Darul Hikmah Masih Tetap semangat untuk menyelesaikan Soal Ujian Nasioanl

Kegiatan Studi Tour Ke Museum Fatahilah,Museum Wayang, dan Bank Indonesia

Wejangan dan Nasihat dari Kepala Sekolah Sebelum melaksanakan Penelitian di Museum Fatahilah, Museum Wayang, dan Musem Bank Indonesia

Akreditasi MTsS Darul Hikmah 2019

Akreditasi MTsS Darul Hikmah 25 - 26 Juli 2019 Oleh Team Akreditasi BAP S/M Prov. Banten, Ibu Cristhini PB dan Ibu Susiswi Purwaningsih

SUNGKEMAN

"SUNGKEMAN" pada Kegiatan Perpisahan Siswa-Siswi MTs Darul Hikmah dan SMA Asa Pertiwi Tahun 2015

Rabu, 16 Desember 2015

Edit Data Peserta Ujian Nasional Tahun 2015/2016

Cara Edit Data Calon Peserta UN Tahun 2015/2016 di Aplikasi Emis Online
1. Login di http://emispendis.kemenag.go.id/vervalun/login.php

http://emispendis.kemenag.go.id/vervalun/login.php

2. Calon Peserta UN
3. Klik Nama Pesrta UN yang akan di Perbaiki


data yang diperlukan untuk memperbaiki data Capesun diantaranya :
Nama Siswa, Nomor Absensi, NISN, NIS Lokal,Nomor Peserta UN, Nomor Blanko SKHUN  Nomor Seri Ijasah.


4. Simpan
5. Jika sudah yakin benar semua Cetak Berita Acara (Cetak BA CAPESUM)

Selasa, 15 Desember 2015

Kalender Pendidikan MTs Darul Hikmah


Kalender MTs Darul Hikmah
Kalender Pendidikan MTs Darul Hikmah Tahun Pelajaran 2015/2016
Semester Ganjil 2015-2016
1. (27-29 Juli 2015) ~ Kegiatan Awal Masuk : Masa Bimbingan Siswa Baru
2. (17 Agustus 2015) ~ Libur Resmi Nasional : Peringatan HUT RI
3. (24 September 2015) ~ Libur Resmi Nasional :
4. (5-10 Oktober 2015) ~ Kegiatan Ulangan Tengah Semester Ganjil
5. (15 Oktober 2015) ~ Libur Resmi Nasional :
6. (2-8 Desember 2015) ~ Kegiatan Ulangan Akhir Semester Ganjil
7. (19 Desember 2015) ~ Penyerahan Buku Raport
8. (20 Desember 2015 - 3 Januari 2015) ~ Libur Semester Ganjil

Semester Genap 2015-2016
1. (4 Janauri 2016) ~ Awal Masuk Semester Genap TP.2015/2016
2. (8 Februari 2016) ~ Libur Resmi Nasional :
3. (7-12 Maret 2016) ~ Kegiatan Ulangan Tengah Semester Genap
4. (25 Maret 2016) ~ Libur Resmi Nasional
5. (11-13 April 2016) ~ Prediksi Kegiatan Ujian Akhir Madrasah Berstandar Nasional


Senin, 14 Desember 2015

Jadwal Study Tour


http://www.darulhikmah.sch.id/2015/12/jadwal-study-tour.html




Jadwal Study Tour TP.2015/2016
Waktu/ Tanggal Pelaksanaan :
Hari Minggu, 27 Desember 2015

Lokasi Tujuan Study Tour
Museum Geologi dan Tangkuban Parahu/Ciater

Waktu Pemberangkatan
Berangkat Malam Minggu Jam : 11 Malam dari Rumah Kepala Sekolah

Perlengkapan Siswa:
1. Seragam Putih-Putih dan Jas
2. Membawa Alat Tulis
3. Yang lainnya untuk keperluan Pencatatan Data (kamera/perekam)
4. Jangan Dilupakan UANG JAJAN dan SNACK/MINUMAN

Pembagian Kelompok Study Tour

Kelompok  1
  1. Ari Susanto
  2. Muhammad Nurkholis
  3. Mukhibin 
  4. Nabhani
  5. Muhammad Andryan
  6. Muhamad Solehan 
Kelompok 2
  1. Andi
  2. Muhammad Hadi
  3. Refaldo Alfadoni
  4. Rokhi
  5. Suwandi
  6. Diki Wahyudi
Kelompok 3
  1. Syaifullah
  2. Suryadi
  3. Mukhammad Yakhya
  4. Fiqri
  5. Sunardi
  6. Suhendi
Kelompok 4
  1. Masamah 
  2. Siti Magfiroh
  3. Khujaemah
  4. Rosita
  5. Selfiyah
Kelompok 5
  1. Magfiroh
  2. Miftakhul Jannah
  3. Juni
  4. Juheriyah
  5. Kasmi
  6. Rabi'ah
           




Agenda Kegiatan Kesiswaan

Agenda Kegiatan Kesiswaan


Agenda Kesiswaan MTs Darul Hikmah Onyam TP.2015/2016  Tanggal 27 Desember 2015 diadakannya Study Tour Untuk Kelas 3 dengan Tujuan Obyek Study diantarananya  Museum Geologi dan Tangkuban Parahu Bandung Jawa Barat

Penerimaan Siswa Baru Tahun Pelajaran 2015/2016

 
http://www.darulhikmah.sch.id/p/ppdb.html
Penerimaan Siswa Baru Tahun Pelajaran 2015/2016

Madrasah Tsanawiyah Darul Hikmah Menciptakan peserta didik berprestasi akademik dan berdaya saing baik ditingkat Kabupaten/Kota, Provinsi maupun Nasional, Mewujdukan siswa yang berkepribadian nasional dan berakhlak mulia, Meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan dan keterampilan, Menguasai tekhnologi dasar dan mengembangkan bakat peserta didik, dan Menyiapkan peserta didik untuk melanjutkan transformasi nilai, budaya, ilmu pengetahuan tekhnologi pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Maka Pada tahun ajaran 2015/2016 Madrasah Tsanawiyah Darul Hikmah akan menerima calon peserta didik baru. Penerimaan peserta didik yang dilakukan dengan cara yang baik akan mampu meningkatkan mutu pendidikan dan mencapai sumber daya manusia yang berkualitas sesuai dengan kompetensi yang ditetapkan secara nasional.

Para siswa yang dididik di  Madarasah Tsanawiyah Darul Hikmah adalah para siswa yang telah memenuhi kriteria yang  ditetapkan pada penerimaan peserta didik baru.


Visi dan Misi Madrasah


http://www.darulhikmah.sch.id/p/visi-misi.html


Visi madrasah

Unggul dalam prestasi akademik, berkepribadian dan akhlak mulya, serta paripurna dalam menguasai ilmu dan tekhnologi dasar.

Misi madrasah

Menyelenggarakan proses belajar dengan metode terbaru dan didukung sarana yang memadai; Pelatihan hidup sosial kemasyarakatan; Penanaman nilai-nilai Agama dan Akhlak Mulia; Simulasi dan pelatihan ilmu dan tekhnologi dasar; Menyelenggarakan transformasi nilai budaya, ilmu dan tekhnologi pada tingkat dasar.

Minggu, 13 Desember 2015

Syekh Asnawi Bin Abdurrahman Caringin

 
http://www.darulhikmah.sch.id/2015/12/syekh-asnawi-bin-abdurrahman-caringin.html 
Syekh Asnawi Bin Abdurrahman Caringin


Banten memiliki banyak ulama tersohor yang mewariskan ilmu agama bagi masyarakat. Jika pada edisi lalu disebutkan biografi dan kiprah Syekh Nawawi Al Bantani, terdapat salah satu murid beliau yang juga pernah menjadikan Banten negeri madani. Dialah KH Asnawi bin Abdurrahman Al Bantani.

Sang kiai lahir di Kampung Caringin, Labuan Banten, sekitar 1850, di tengah keluarga yang religius. Sang ayah, Abdurrahman, dan ibunya, Ratu Sabi’ah, berasal dari keluarga yang kental berislam. Bahkan, disebutkan pula bahwa Kiai Asnawi masih keturunan Sultan Ageng Mataram Raden Patah. Tak heran jika sejak kecil, Asnawi hidup dalam didikan yang baik.

Pada usia yang masih sangat belia, sembilan tahun, Asnawi sudah dikirim ayahnya untuk menuntut ilmu ke Makkah. Di Tanah Suci, Asnawi kemudian bertemu gurunya, Syekh Nawawi Al Bantani, yang merupakan guru di Masjidil Haram. Bukan sekadar karena sama-sama kelahiran Banten Asnawi dapat dekat dengan sang guru. Namun, kecerdasannya juga membuat Syekh Nawawi mengajarkan banyak hal padanya.

Bertahun-tahun kiai belajar di tanah kelahiran Islam. Hingga ketika dirasa telah mumpuni dalam agama, ia pun dipercaya untuk mendakwahkan Islam. Maka, kiai pun pulang kembali ke tanah lahirnya, Banten. Ia pun mulai mengajar dan mengundang ketertarikan banyak pemuda hingga menjadi muridnya. Tersiarlah nama Asnawi sebagai ulama di kawasan Banten dan sekitarnya. Kepiawaiannya dalam berdakwah membuat nama kiai Asnawi tersohor sebagai ulama besar di Banten.

Tak hanya mengajarkan agama, Kiai Asnawi juga terkenal semangatnya yang menggebu dalam melawan penjajah. Ia mengobarkan semangat pemuda untuk melawan dan menentang kolonialisme Belanda. Apalagi, saat itu seluruh wilayah Banten berhasil dikuasai penjajah. Bahkan, tak hanya mengobarkan semangat kemerdekaan lewat lisan, tapi juga aksi. Kiai juga dikenal memiliki ilmu bela diri yang sakti.

Kiai yang tangguh dan berhasil mengajak pemuda untuk melawan penjajah pun menjadi ancaman bagi Belanda. Apalagi, Banten dikenal sebagai tempat lahirnya para ‘pemberontak’ Belanda, bukan hanya dari kalangan rakyat biasa, melainkan juga dari kalangan ulama. Alhasil, kiai pernah ditahan oleh penjajah di Tanah Abang serta diasingkan ke Cianjur. Ia dihukum lebih dari setahun dengan tuduhan melakukan pemberontakan. Namun, selama ditahan dan diasingkan, kiai tetap aktif menyampaikan dakwah Islam. Ia mengajarkan syariat Islam kepada masyarakat sekitar di manapun ia berada.

Seusai diasingkan, kiai kembali ke kampungnya di Caringin. Karena situasi yang lebih aman, kiai makin giat mensyiarkan Islam. Ia pun mendirikan sebuah Madrasah Masyarikul Anwar dan masjid di Caringin pada 1884. Masjid tersebut bernama Masjid Caringin yang hingga kini masih berdiri tegak. Ada kisah yang beredar di masyarakat bahwa kayu untuk bangunan masjid tersebut berasal dari sebuah pohon yang dibawa kiai dari Kalimantan. Pohon tersebut hanya satu, namun menghasilkan banyak kayu karena keberkahan sang kiai.

Beberapa sumber menyebutkan, pembangunan Masjid Caringin oleh kiai juga ditujukan untuk membangun kembali peradaban masyarakat yang hancur akibat letusan Gunung Krakatau pada 1883. Kiai Asnawi ingin membangun kembali akidah masyarakat dengan didirikannya sarana masjid tersebut. Sejak masjid berdiri, dakwah pun makin menggeliat. Banyak pemuda datang untuk berguru pada kiai. Asnawi pun menghabiskan usianya untuk pengajaran agama dari tempat kelahirannya, Caringin.

Karena Asnawi sangat terkenal pamornya sebagai ulama besar dari Kampung Caringin, ia pun dikenal pula dengan nama Kiai Asnawi Caringin. Masyarakat memaknai Caringin dengan beringin. Selain karena kampung asal kiai dari Caringin, nama Caringin juga dianggap pas bagi kiai karena telah mengayomi masyarakat layaknya teduhnya pohon beringin.

Setelah banyak kiprah yang ditorehkan bagi masyarakat, terutama masyarakat Banten, kiai menghembuskan napas terakhir pada 1937. Ia meninggalkan banyak sekali anak, yakni 23 putra dan putri. Ia dimakamkan di dekat masjid yang ia bangun, Masjid Caringin. Hingga kini, banyak masyarakat yang rajin berziarah ke makamnya.

Syeikh Nawawi al-Bantani


http://www.darulhikmah.sch.id/2015/12/syaikh-muhammad-nawawi-al-jawi-al.html

Syaikh Muhammad Nawawi al-Jawi al-Bantani 
Bahasa Arab: محمد نووي الجاوي البنتني, lahir di Tanara, Serang, 1813 - meninggal di Mekkah, 1897) adalah seorang ulama Indonesia yang terkenal. Ia bergelar al-Bantani karena ia berasal dari Banten, Indonesia. Ia adalah seorang ulama dan intelektual yang sangat produktif menulis kitab, yang meliputi bidang-bidang fiqih, tauhid, tasawuf, tafsir, dan hadis. Jumlah karyanya mencapai tidak kurang dari 115 kitab.

Kelahiran dan Pendidikan
1230-1314 H / 1815- 1897 M Lahir dengan nama Abû Abdul Mu’ti Muhammad Nawawi bin ‘Umar bin ‘Arabi. Ulama besar ini hidup dalam tradisi keagamaan yang sangat kuat. Ulama yang lahir di Kampung Tanara, sebuah desa kecil di kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang, Propinsi Banten (Sekarang di Kampung Pesisir, desa Pedaleman Kecamatan Tanara depan Mesjid Jami’ Syaikh Nawawi Bantani) pada tahun 1230 H atau 1815 M ini bernasab kepada keturunan Maulana Hasanuddin Putra Sunan Gunung Jati, Cirebon. Keturunan ke-12 dari Sultan Banten. Nasab dia melalui jalur ini sampai kepada Baginda Nabi Muhammad saw. Melalui keturunan Maulana Hasanuddin yakni Pangeran Suniararas, yang makamnya hanya berjarak 500 meter dari bekas kediaman dia di Tanara, nasab Ahlul Bait sampai ke Syaikh Nawawi. Ayah dia seorang Ulama Banten, ‘Umar bin ‘Arabi, ibunya bernama Zubaedah.

Pendidikan
Semenjak kecil dia memang terkenal cerdas. Otaknya dengan mudah menyerap pelajaran yang telah diberikan ayahnya sejak umur 5 tahun. Pertanyaanpertanyaan kritisnya sering membuat ayahnya bingung. Melihat potensi yang begitu besar pada putranya, pada usia 8 tahun sang ayah mengirimkannya keberbagai pesantren di Jawa. Dia mula-mula mendapat bimbingan langsung dari ayahnya, kemudian berguru kapada Kyai Sahal, Banten; setelah itu mengaji kepada Kyai Yusuf, Purwakarta.[1]

Di usia dia yang belum lagi mencapai 15 tahun, Syaikh Nawawi telah mengajar banyak orang. Sampai kemudian karena karamahnya yang telah mengkilap sebelia itu, dia mencari tempat di pinggir pantai agar lebih leluasa mengajar murid-muridnya yang kian hari bertambah banyak. Pada usia 15 tahun dia menunaikan haji dan berguru kepada sejumlah ulama terkenal di Mekah, seperti Syaikh Khâtib al-Sambasi, Abdul Ghani Bima, Yusuf Sumbulaweni, Abdul Hamîd Daghestani, Syaikh Sayyid Ahmad Nahrawi, Syaikh Ahmad Dimyati, Syaikh Ahmad Zaini Dahlan, Syaikh Muhammad Khatib Hambali, dan Syaikh Junaid Al-Betawi. Tapi guru yang paling berpengaruh adalah Syaikh Sayyid Ahmad Nahrawi, Syaikh Junaid Al-Betawi dan Syaikh Ahmad Dimyati, ulama terkemuka di Mekah. Lewat ketiga Syaikh inilah karakter dia terbentuk. Selain itu juga ada dua ulama lain yang berperan besar mengubah alam pikirannya, yaitu Syaikh Muhammad Khatib dan Syaikh Ahmad Zaini Dahlan, ulama besar di Medinah.

Karya-Karya dan Karamah
Kepakaran dia tidak diragukan lagi. Ulama asal Mesir, Syaikh 'Umar 'Abdul Jabbâr dalam kitabnya "al-Durûs min Mâdhi al-Ta’lîm wa Hadlirih bi al-Masjidil al-Harâm” (beberapa kajian masa lalu dan masa kini tentang Pendidikan Masa kini di Masjidil Haram) menulis bahwa Syaikh Nawawi sangat produktif menulis hingga karyanya mencapai seratus judul lebih, meliputi berbagai disiplin ilmu. Banyak pula karyanya yang berupa syarah atau komentar terhadap kitab-kitab klasik. Sebagian dari karya-karya Syaikh Nawawi di antaranya adalah sebagai berikut:
  1.     al-Tsamâr al-Yâni’ah syarah al-Riyâdl al-Badî’ah
  2.     al-‘Aqd al-Tsamîn syarah Fath al-Mubîn
  3.     Sullam al-Munâjah syarah Safînah al-Shalâh
  4.     Baĥjah al-Wasâil syarah al-Risâlah al-Jâmi’ah bayn al-Usûl wa al-Fiqh wa al-Tasawwuf
  5.     al-Tausyîh/ Quwt al-Habîb al-Gharîb syarah Fath al-Qarîb al-Mujîb
  6.     Niĥâyah al-Zayyin syarah Qurrah al-‘Ain bi Muĥimmâh al-Dîn
  7.     Marâqi al-‘Ubûdiyyah syarah Matan Bidâyah al-Ĥidâyah
  8.     Nashâih al-‘Ibâd syarah al-Manbaĥâtu ‘ala al-Isti’dâd li yaum al-Mi’âd
  9.     Salâlim al-Fadhlâ΄ syarah Mandhûmah Ĥidâyah al-Azkiyâ΄
  10.     Qâmi’u al-Thugyân syarah Mandhûmah Syu’bu al-Imân
  11.     al-Tafsir al-Munîr li al-Mu’âlim al-Tanzîl al-Mufassir ‘an wujûĥ mahâsin al-Ta΄wil musammâ Murâh Labîd li Kasyafi Ma’nâ Qur΄an Majîd
  12.     Kasyf al-Marûthiyyah syarah Matan al-Jurumiyyah
  13.     Fath al-Ghâfir al-Khathiyyah syarah Nadham al-Jurumiyyah musammâ al-Kawâkib al-Jaliyyah
  14.     Nur al-Dhalâm ‘ala Mandhûmah al-Musammâh bi ‘Aqîdah al-‘Awwâm
  15.     Tanqîh al-Qaul al-Hatsîts syarah Lubâb al-Hadîts
  16.     Madârij al-Shu’ûd syarah Maulid al-Barzanji
  17.     Targhîb al-Mustâqîn syarah Mandhûmah Maulid al-Barzanjî
  18.     Fath al-Shamad al ‘Âlam syarah Maulid Syarif al-‘Anâm
  19.     Fath al-Majîd syarah al-Durr al-Farîd
  20.     Tîjân al-Darâry syarah Matan al-Baijûry
  21.     Fath al-Mujîb syarah Mukhtashar al-Khathîb
  22.     Murâqah Shu’ûd al-Tashdîq syarah Sulam al-Taufîq
  23.     Kâsyifah al-Sajâ syarah Safînah al-Najâ
  24.     al-Futûhâh al-Madaniyyah syarah al-Syu’b al-Îmâniyyah
  25.     ‘Uqûd al-Lujain fi Bayân Huqûq al-Zaujain
  26.     Qathr al-Ghais syarah Masâil Abî al-Laits
  27.     Naqâwah al-‘Aqîdah Mandhûmah fi Tauhîd
  28.     al-Naĥjah al-Jayyidah syarah Naqâwah al-‘Aqîdah
  29.     Sulûk al-Jâdah syarah Lam’ah al-Mafâdah fi bayân al-Jumu’ah wa almu’âdah
  30.     Hilyah al-Shibyân syarah Fath al-Rahman
  31.     al-Fushûsh al-Yâqutiyyah ‘ala al-Raudlah al-Baĥîyyah fi Abwâb al-Tashrîfiyyah
  32.     al-Riyâdl al-Fauliyyah
  33.     Mishbâh al-Dhalâm’ala Minĥaj al-Atamma fi Tabwîb al-Hukm
  34.     Dzariyy’ah al-Yaqîn ‘ala Umm al-Barâĥîn fi al-Tauhîd
  35.     al-Ibrîz al-Dâniy fi Maulid Sayyidina Muhammad al-Sayyid al-Adnâny
  36.     Baghyah al-‘Awwâm fi Syarah Maulid Sayyid al-Anâm
  37.     al-Durrur al-Baĥiyyah fi syarah al-Khashâish al-Nabawiyyah
  38.     Lubâb al-bayyân fi ‘Ilmi Bayyân.[4]
Karya tafsirnya, al-Munîr, sangat monumental, bahkan ada yang mengatakan lebih baik dari Tafsîr Jalâlain, karya Imâm Jalâluddîn al-Suyûthi dan Imâm Jalâluddîn al-Mahâlli yang sangat terkenal itu. Sementara Kâsyifah al-Sajâ syarah merupakan syarah atau komentar terhadap kitab fiqih Safînah al-Najâ, karya Syaikh Sâlim bin Sumeir al-Hadhramy. Para pakar menyebut karya dia lebih praktis ketimbang matan yang dikomentarinya. Karya-karya dia di bidang Ilmu Akidah misalnya Tîjân al-Darâry, Nûr al-Dhalam, Fath al-Majîd. Sementara dalam bidang Ilmu Hadits misalnya Tanqih al-Qaul. Karya-karya dia di bidang Ilmu Fiqih yakni Sullam al-Munâjah, Niĥâyah al-Zain, Kâsyifah al-Sajâ. Adapun Qâmi’u al-Thugyân, Nashâih al-‘Ibâd dan Minhâj al-Raghibi merupakan karya tasawwuf. Ada lagi sebuah kitab fiqih karya dia yang sangat terkenal di kalangan para santri pesantren di Jawa, yaitu Syarah ’Uqûd al-Lujain fi Bayân Huqûq al-Zaujain. Hampir semua pesantren memasukkan kitab ini dalam daftar paket bacaan wajib, terutama di Bulan Ramadhan. Isinya tentang segala persoalan keluarga yang ditulis secara detail. Hubungan antara suami dan istri dijelaskan secara rinci. Kitab yang sangat terkenal ini menjadi rujukan selama hampir seabad. Tapi kini, seabad kemudian kitab tersebut dikritik dan digugat, terutama oleh kalangan muslimah. Mereka menilai kandungan kitab tersebut sudah tidak cocok lagi dengan perkembangan masa kini. Tradisi syarah atau komentar bahkan kritik mengkritik terhadap karya dia, tentulah tidak mengurangi kualitas kepakaran dan intelektual dia

Karamah
Konon, pada suatu waktu pernah dia mengarang kitab dengan menggunakan telunjuk dia sebagai lampu, saat itu dalam sebuah perjalanan. Karena tidak ada cahaya dalam syuqduf yakni rumah-rumahan di punggung unta, yang dia diami, sementara aspirasi tengah kencang mengisi kepalanya. Syaikh Nawawi kemudian berdoa memohon kepada Allah Ta’ala agar telunjuk kirinya dapat menjadi lampu menerangi jari kanannya yang untuk menulis. Kitab yang kemudian lahir dengan nama Marâqi al-‘Ubudiyyah syarah Matan Bidâyah al-Hidayah itu harus dibayar dia dengan cacat pada jari telunjuk kirinya. Cahaya yang diberikan Allah pada jari telunjuk kiri dia itu membawa bekas yang tidak hilang. Karamah dia yang lain juga diperlihatkannya di saat mengunjungi salah satu masjid di Jakarta yakni Masjid Pekojan. Masjid yang dibangun oleh salah seorang keturunan cucu Rasulullah saw Sayyid Utsmân bin ‘Agîl bin Yahya al-‘Alawi, Ulama dan Mufti Betawi (sekarang ibukota Jakarta),[6] itu ternyata memiliki kiblat yang salah. Padahal yang menentukan kiblat bagi mesjid itu adalah Sayyid Utsmân sendiri.

Tak ayal , saat seorang anak remaja yang tak dikenalnya menyalahkan penentuan kiblat, kagetlah Sayyid Utsmân. Diskusipun terjadi dengan seru antara mereka berdua. Sayyid Utsmân tetap berpendirian kiblat Mesjid Pekojan sudah benar. Sementara Syaikh Nawawi remaja berpendapat arah kiblat mesti dibetulkan. Saat kesepakatan tak bisa diraih karena masing-masing mempertahankan pendapatnya dengan keras, Syaikh Nawawi remaja menarik lengan baju lengan Sayyid Utsmân. Dirapatkan tubuhnya agar bisa saling mendekat.
“     “Lihatlah Sayyid!, itulah Ka΄bah tempat Kiblat kita. Lihat dan perhatikanlah! Tidakkah Ka΄bah itu terlihat amat jelas? Sementara Kiblat masjid ini agak kekiri. Maka perlulah kiblatnya digeser ke kanan agar tepat menghadap ke Ka΄bah". Ujar Syaikh Nawawi remaja.     ”

Sayyid Utsmân termangu. Ka΄bah yang ia lihat dengan mengikuti telunjuk Syaikh Nawawi remaja memang terlihat jelas. Sayyid Utsmân merasa takjub dan menyadari , remaja yang bertubuh kecil di hadapannya ini telah dikaruniai kemuliaan, yakni terbukanya nur basyariyyah. Dengan karamah itu, di manapun dia berada Ka΄bah tetap terlihat. Dengan penuh hormat, Sayyid Utsmân langsung memeluk tubuh kecil dia. Sampai saat ini, jika kita mengunjungi Masjid Pekojan akan terlihat kiblat digeser, tidak sesuai aslinya.[7]

Telah menjadi kebijakan Pemerintah Arab Saudi bahwa orang yang telah dikubur selama setahun kuburannya harus digali. Tulang belulang si mayat kemudian diambil dan disatukan dengan tulang belulang mayat lainnya. Selanjutnya semua tulang itu dikuburkan di tempat lain di luar kota. Lubang kubur yang dibongkar dibiarkan tetap terbuka hingga datang jenazah berikutnya terus silih berganti. Kebijakan ini dijalankan tanpa pandang bulu. Siapapun dia, pejabat atau orang biasa, saudagar kaya atau orang miskin, sama terkena kebijakan tersebut. Inilah yang juga menimpa makam Syaikh Nawawi. Setelah kuburnya genap berusia satu tahun, datanglah petugas dari pemerintah kota untuk menggali kuburnya. Tetapi yang terjadi adalah hal yang tak lazim. Para petugas kuburan itu tak menemukan tulang belulang seperti biasanya. Yang mereka temukan adalah satu jasad yang masih utuh. Tidak kurang satu apapun, tidak lecet atau tanda-tanda pembusukan seperti lazimnya jenazah yang telah lama dikubur. Bahkan kain putih kafan penutup jasad dia tidak sobek dan tidak lapuk sedikitpun.

Terang saja kejadian ini mengejutkan para petugas. Mereka lari berhamburan mendatangi atasannya dan menceritakan apa yang telah terjadi. Setelah diteliti, sang atasan kemudian menyadari bahwa makam yang digali itu bukan makam orang sembarangan. Langkah strategis lalu diambil. Pemerintah melarang membongkar makam tersebut. Jasad dia lalu dikuburkan kembali seperti sediakala. Hingga sekarang makam dia tetap berada di Ma΄la, Mekah.

Demikianlah karamah Syaikh Nawawi al-Bantani al-Jawi. Tanah organisme yang hidup di dalamnya sedikitpun tidak merusak jasad dia. Kasih sayang Allah Ta’ala berlimpah pada dia. Karamah Syaikh Nawawi yang paling tinggi akan kita rasakan saat kita membuka lembar demi lembar Tafsîr Munîr yang dia karang. Kitab Tafsir fenomenal ini menerangi jalan siapa saja yang ingin memahami Firman Allah swt. Begitu juga dari kalimat-kalimat lugas kitab fiqih, Kâsyifah al-Sajâ, yang menerangkan syariat. Begitu pula ratusan hikmah di dalam kitab Nashâih al-‘Ibâd. Serta ratusan kitab lainnya yang akan terus menyirami umat dengan cahaya abadi dari buah tangan dia.


Wafat
Masa selama 69 tahun mengabdikan dirinya sebagai guru Umat Islam telah memberikan pandangan-pandangan cemerlang atas berbagai masalah umat Islam. Syaikh Nawawi wafat di Mekah pada tanggal 25 syawal 1314 H/ 1897 M. Tapi ada pula yang mencatat tahun wafatnya pada tahun 1316 H/ 1899 M. Makamnya terletak di pekuburan Ma'la di Mekah. Makam dia bersebelahan dengan makam anak perempuan dari Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq, Asma΄ binti Abû Bakar al-Siddîq.
https://id.wikipedia.org/wiki/Nawawi_al-Bantani
 

Kamis, 15 Oktober 2015

Sejarah 1 Muharam

Sejarah 1 Muharam
Kalender Hijriyah atau Kalender Islam (bahasa Arab: التقويم الهجري; at-taqwim al-hijri), adalah kalender yang digunakan oleh umat Islam, termasuk dalam menentukan tanggal atau bulan yang berkaitan dengan ibadah, atau hari-hari penting lainnya. Kalender ini dinamakan Kalender Hijriyah, karena pada tahun pertama kalender ini adalah tahun dimana terjadi peristiwa Hijrah-nya Nabi Muhammad dari Makkah ke Madinah, yakni pada tahun 622 M. Di beberapa negara yang berpenduduk mayoritas Islam, Kalender Hijriyah juga digunakan sebagai sistem penanggalan sehari-hari. Kalender Islam menggunakan peredaran bulan sebagai acuannya, berbeda dengan kalender biasa (kalender Masehi) yang menggunakan peredaran matahari.

Sejarah
Penentuan dimulainya sebuah hari/tanggal pada Kalender Hijriyah berbeda dengan pada Kalender Masehi. Pada sistem Kalender Masehi, sebuah hari/tanggal dimulai pada pukul 00.00 waktu setempat. Namun pada sistem Kalender Hijriah, sebuah hari/tanggal dimulai ketika terbenamnya matahari di tempat tersebut.
Kalender Hijriyah dibangun berdasarkan rata-rata silkus sinodik bulan kalender lunar (qomariyah), memiliki 12 bulan dalam setahun. Dengan menggunakan siklus sinodik bulan, bilangan hari dalam satu tahunnya adalah (12 x 29,53059 hari = 354,36708 hari).Hal inilah yang menjelaskan 1 tahun Kalender Hijriah lebih pendek sekitar 11 hari dibanding dengan 1 tahun Kalender Masehi.
Faktanya, siklus sinodik bulan bervariasi. Jumlah hari dalam satu bulan dalam Kalender Hijriah bergantung pada posisi bulan, bumi dan matahari. Usia bulan yang mencapai 30 hari bersesuaian dengan terjadinya bulan baru (new moon) di titik apooge, yaitu jarak terjauh antara bulan dan bumi, dan pada saat yang bersamaan, bumi berada pada jarak terdekatnya dengan matahari (perihelion). Sementara itu, satu bulan yang berlangsung 29 hari bertepatan dengan saat terjadinya bulan baru di perige (jarak terdekat bulan dengan bumi) dengan bumi berada di titik terjauhnya dari matahari (aphelion). dari sini terlihat bahwa usia bulan tidak tetap melainkan berubah-ubah (29 – 30 hari) sesuai dengan kedudukan ketiga benda langit tersebut (Bulan, Bumi dan Matahari)
Penentuan awal bulan (new moon) ditandai dengan munculnya penampakan (visibilitas) Bulan Sabit pertama kali (hilal) setelah bulan baru (konjungsi atau ijtimak). Pada fase ini, Bulan terbenam sesaat setelah terbenamnya Matahari, sehingga posisi hilal berada di ufuk barat. Jika hilal tidak dapat terlihat pada hari ke-29, maka jumlah hari pada bulan tersebut dibulatkan menjadi 30 hari. Tidak ada aturan khusus bulan-bulan mana saja yang memiliki 29 hari, dan mana yang memiliki 30 hari. Semuanya tergantung pada penampakan hilal.

Peringatan 1 Muaharam 1437 H di YPI Darul Hikmah

Minggu, 17 Mei 2015

KH. MUFTI BIN ASNAWI

MENGENAL SOSOK
BUYA CAKUNG SREWU
KH. MUFTI BIN ASNAWI
(Di Susun oleh: KH. Imaduddin Utsman, S.Ag. MA. 1432 H/2011)

NAMA DAN KELAHIRAN
            Beliau bernama lengkap KH. Mufti bin Asnawi bin Bahauddin bin Ramli bin Alim  bin Abdullah bin ibrohim bin syekh hasan bashri bin fatimah binti Syekh ciliwulung bin Raden kenyep bin Pangeran Jaga Lautan. Nasabnya bersambung kepada Rasulullah Muhammad saw melalui Sayyidina Husein ra.
Beliau adalah keturunan ke sepuluh dari Syekh Ciliwulung, adalah seorang penyebar agama Islam di daerah Banten Utara di Makamkan di Kp. Cakung Gegunung dekat Cakung Srewu.
                        KH. Mufti bin Asnawi lahir pada tanggal 02 januari 1935 di Kampung Cakung Bojong, bersebrangan dengan Cakung srewu. Ketika itu Bangsa Indonesia masih berada dalam cengkraman colonial Belanda. Semangat pembebasan dari penjajahan yang pantang menyerah   kemudian menjadi penyulut semangat beliau dalam menuntut ilmu ketika usia remaja.
           
PENGELANAAN ILMIYAH KH. MUFTI ASNAWI
            KH. Mufti bin Asnawi mengawali belajar di Kampungnya hingga usia menganjak remaja. Selain kepada ayahnya beliau juga menuntut ilmu di kampong halamannya kepada Ki Pingil, Ki Ibrahim dan Ki Astari. Cakung dikenal sebagai daerah yang telah mengenal tradisi ilmu keislaman  sebelum tradisi  ilmu keislaman Tanara, tempat kelahiran Syeh Nawawi Al-bantani. Minimal sebelum kelahiran pujangga besar islam Banten, Syekh Nawawi. Hal ini dapat dibuktikan dengan diketemukannya naskah-naskah klasik yang berangka tahun sebelum 1813, tahun kelahiran Syekh Nawawi Al-bantani. Bahkan Syekh nawawi sendiri sebelum berguru ke Makkah beliau berguru kepada Ki Ayip Cakung teman ayahnya sendiri yaitu ki Umar bin Arabi.
            Bahkan beberapa sumber menyebutkan Cakung telah mengenal Islam sebelum lahirnya kesultanan Banten. Syekh ciliwulung bersama delapan ulama lainnya membantu Maulana Hasanudin dalam  penyebaran Islam di Banten. Mereka adalah Sembilan orang yang bernama depan Cili yaitu: Syekh Ciliwulung, Syekh Cilikored, Syekh cilimede, Syekh Cilijohar, Syekh Ciliglebeg, Syekh Cilibadrin, Syekh Cilibred, Syekh Cilibayun dan Syekh Ciliwangsa.
            Hal inilah yang menjadikan suasana kebatinan seorang Mufti remaja begitu semangat menuntut ilmu. Yakni lingkungan ilmiyah yang begitu kondusif untuk mendukung seorang anak menjadi terpacu untuk menereruskan tradisi keilmuan yang turun-temurun.
            Setelah dirasa cukup umur, Ki Asnawi, seorang pedagang yang juga fasih dalam tradisi kesantrian mengirim anaknya untuk mengawali pengelanaan ilmiyah anaknya ke Pesantren Singarajan di daerah Pontang, serang. Pesantren Singgarajan diasuh oleh Kiayi Kharismatik ketika itu yang dikenal faqih dan ahli segala bidang ilmu yaitu KH. Marsyad.
            Dipesantren ini KH. Mufti mengalami berbagai macam kejadian aneh di antaranya di kisahkan syekh Ciliwulung datang bukan dalam keadaan mimpi untuk mengajar Mufti remaja kitab Matan Taqrib secara musafahah.
            Semangat yang tinggi dalam menuntut ilmu menjadikan KH. Mufti  menghabiskan seluruh waktunya untuk mengaji. Baik mengaji bandungan di depan kiayi maupun sorogan di depan santri senior. Bagi KH. Mufti kecil, banyak tidur adalah kerugian bagi seorang santri. Maka KH. Mufti hanya tidur dengan berbantalkan cumplung kelapa agar tak nyenyak. Menghafal juga adalah kegemaran KH. Mufti sejak kecil. Beberapa kitab nadzam berhasil beliau hafal dalam waktu singkat.
            Ustad Bagja, teman sekamarnya berseloroh: “Satu kamar dengan Ki Mufti tidak bisa tidur nyenyak, karena mulutnya tidak pernah berhenti menghafal nadzam”.
            Santri-santri senior yang ketika mula-mula kedatangan KH. Mufti di pesantren mengajar dasar-dasar nahu dan sorof, hanya dalam beberapa tahun berbalik menjadi orang-orang yang belajar di hadapan KH. Mufti.
            Beberapa tahun kemudian Kiayi Marsyad mengatakan: “Bukan hanya bayong, wader-wader telah habis oleh Mufti”. Maksudnya begitu cepat KH. Mufti dapat mempelajari berbagai imu dari Ki Marsyad. Selanjutnya Ki Marsyad menganjurkan KH. Mufti untuk mencari pengalaman mengaji ke tempat lain.
            Berbagai pesantren di datangi KH. Mufti dalam pengelanaan ilmiyah fase ketiganya. Di antaranya pesantren Kadukaweng Pandeglang, pesantren Buya Amin koper, Pesantren sukabumi, laes dll.

PERNIKAHAN KH. MUFTI BIN ASNAWI
            Sebagai seorang santri yang sudah dikenal kejeniusannya, tentunya membuat sosok KH. Mufti remaja menjadi incaran para orang tua yang berharap mempunyai menantu santri yang kelak diharapkan menjadi kiayi. Di Singarajan sendiri sudah terdengar khabar dari Cakung bahwa KH. Mufti akan dijadikan menantu oleh orang Singarajan. Hal ini terdengar oleh Ki Astari Cakung. Akhirnya Ki Astari mengutus orang untuk menemui ayah KH. Mufti agar segera menikahkan KH. Mufti dengan gadis Cakung Srewu, “Kalau Mufti menikah dengan gadis srewu, maka srewu akan menjadi gedong ilmu”. Demikian kira-kira ucapan Ki Astari, seorang ulama yang telah masyhur dengan derajat kewaliyan.
            Akhirnya, KH. Mufti dinikahkan dengan Hj. Jawariyah, putri seorang sesepuh Cakung Srewu. Walaupun telah menikah KH. Mufti tidak menghentikan kehausannya akan ilmu pengetahuan. KH. Mufti terus mesantren ke berbagai tempat untuk berguru kepada para kiayi.
Hj. Jawariyah adalah sosok isteri solihah yang mendampingi perjuangan KH. Mufti bin Asnawi dalam suka dan duka. Pahit dan getir perjuangan Kiayi besar ini dalam mengasuh pesantren dan membimbing umat selalu mendapat hiburan dan kasih sayang dari isterinya yang tercinta. KH. Mufti bin Asnawi hanya beristeri dengan Hj. Jawariyah sampai beliau yang mulia menghadap Al Rafiiq al a’la.

MENDIRIKAN PESANTREN
            Setelah menikah, atas anjuran Ki Marsyad dan Ki astari akhirnya KH. Mufti mendirikan pesantren di cakung srewu pada tahun 1962 pada umur yang sangat muda yaitu 27 tahun.
            Pesantren ini bermula bernama Pondok Pesantren Darul hikmah, kemudian menjadi pondok Pesantren Darul Hikmah Cakung, kemudian atas impian dengan Syekh Ciliwulung, pesantren ini bernama Pondok Pesantren Darul hikmah Ciliwulung. Beberapa tahun nama pondok pesantren ini ditulis dengan nama Pondok pesantren Darul Hikmah Ciliwulung sampai akhirnya beliau bermimpi dimarahi oleh Syekh ciliwulung untuk menambah kata Syekh sebelum kata Ciliwulung. Akhirnya sampai sekarang Pondok pesantren ini bernama PONDOK PESANTREN DARUL HIKMAH SYEKH CILIWULUNG (DHSC).
            Pondok Pesantren DHSC mengkader tunas pejuang ulama berbasis akhlak salafussolih dan fiqh madzhab Syafi’I dan Aqidah ahli sunnah wal jamaah madzhab Abu Hasan Al-Asy’ari serta tasawuf Alghazali dlsb.
            Ramalan Ki Astari yang mengatakan Cakung srewu akan menjadi Gedong ilmu menjadi kenyataan, santri dari berbagai daerah datang untuk berguru ilmu agama kepada KH. Mufti bin Asnawi.
Istiqomah yang sempurna untuk mengajar para santri setelah mendirikan pesantren menjadikan nama KH. Mufti semakin dikenal luas. Dalam usia yang sangat muda KH. Mufti Asnawi telah dipercaya oleh Abuya Amin Koper untuk menjadi badal pengajian para kiayi di masjid kresek yang dilaksanakan sejumat sekali setiap hari Selasa.
KH. Mufti muda juga telah menjadi andalan Buya Amin untuk mencari matlab fiqih dari berbagai macam kitab apabila ada permasalahan fiqh yang mesti di selesaikan.
Pesantren DHSC terus berkembang mulai hanya dari beberapa kobong bilik bambu hingga mendirikan madrasah MTs pada tahun 1972 dan MA pada tahun 1993. Sedangkan MI telah berdiri sejak berdirinya pondok pesantren tahun1962.
Seperti di pesantren salafiyah umumnya, di pesantren DHSC juga terbentuk kelurahan santri DHSC yang mulai di bentuk kepengurusannya tahun 1970. Lurah pertama pondok pesantren DHSC adalah Drs. Memed Sumaidi dari Palembang yang berkhidmat mulai tahun 1970-1985, sekarang beliau menjadi Dosen di sebuah universitas di Palembang, juga menjadi da’i. Diteruskan oleh Mufid Dahlan, S.Pd.I  dari Talok yang berkhidmat sejak tahun 1985 sampai 1990, kemudian ia dinikahkan dengan kemenakan KH. Mufti bin Asnawi. Diteruskan oleh Nawawi dari pontang yang berkhidmat mulai tahun 1990 sampai 1992. Kemudian pada tahun 1992 lurah pondok di emban oleh Madaris dari Gembor, sekarang memimpin majlis dzikir di Pasir Sadang Cikande.
Lalu disusul oleh H. Imaduddin Utsman, S.Ag. MA. Dari Cempaka Kresek Yang berkhidmat menjadi lurah pondok mulai dari tahun 1996 sampai tahun 1997, sekarang mengasuh para santri di Pesantrennya Nahdlatul ulum di cempaka. Kemudian tahun 1997 sampai tahun 2000 di emban oleh Muhtadi, S.Pd.I dari Koper, kini memimpin Yayasan nurul falah di Koper cikande. Disusul oleh Mun’im Hari, S.Pd.I yang merupakan adik dari lurah kedua Mufid Dahlan, hanya menjabat beberapa bulan pada tahun 2000. Kelurahan kemudian dikhidmahkan kepada Jaelani dari Tamiang pada tahun 2000-2005. Dan dari tahun 2005 sampai sekarang diemban oleh Zakariya.

KEILMUAN DAN KARANGAN
            KH. Mufti Asnawi adalah seorang al fardliy, yaitu seorang yang mumpuni dalam ilmu faraid atau ilmu pembagian waris. Dalam masalah ini, sering KH. Mufti menyelesaikan sengketa waris di tengah masyarakat. Bahkan tak jarang terpaksa harus berbeda pendapat dengan kiayi lain.
            Banyak kisah perdebatan KH. Mufti dengan para kiayi dalam pembagian waris. Kecemerlangan dalam ilmu nahwu membantu KH. Mufti dalam memahami ilmu waris dari berbagai macam sumber kitab klasik. Sehingga kiayi yang hanya pandai dalam waris tapi kurang dalam nahwu akan terjebak kedalam salah memahami teks kitab kuning. Maka kemudin KH. Mufti menjadi rujukan utama masarakat sekitar Serang-Tangerang dalam ilmu Faraid.
            Dalam ilmu Faraid KH. Mufti mengarang sebuah kitab yang merupakan syarah dari kitab matan rahbiyyah. Kitab ini ditulis dengan tangannya sendiri dalam sebuah buku. Kemudian sekitar tahun 2000 Mun’im Hari menulisnya dengan computer. Namun sayang, dalam proses cetak kitab ini hilang. Dan sampai sekarang belum bisa ditemukan.
            Dalam ilmu Nahwu, KH. Mufti mengarang kitab Amtsilatul I’rab, yaitu berisi tentang cara memahami Gramer bahasa Arab dengan metode pengenalan  I’rab seluruh bab nahwu. Kitab ini telah dicetak dan menjadi pegangan santri srewu.
            Dalam masalah-masalah fiqh, KH. Mufti begitu teliti dalam pengambilan matlab atau maraji’. Beliau mengumpulkan masalah-masalah fiqh dalam sebuah catatan yang tersusun rapih, kemudian beliau menyebutkan sumber kitab dan halamannya. Insya Allah kitab ini akan dicetak agar bisa lebih bermanfaat untuk kaum muslimin.

KESAKSIAN-KESAKSIAN TENTANG KH. MUFTI ASNAWI
            Kisah kehidupan KH. Mufti bin Asnawi adalah kisah hidup yang penuh kesahajaan, ketawadu’an dan kebijaksanaan. Ilmu yang begitu tabahhur tidak menjadikan KH. Mufti menganggap dirinya penting atau gumede. Sangat biasa. Itulah kesan yang bisa dikatakan orang yang pernah berjumpa dengannya. Bahkan cara berpakaian dan gaya akhlak kadang kala tidak mengkesankan adanya jarak antara beliau dengan siapa saja yang dihadapinya.
            Orang bodoh dan orang miskin tidak akan merasa direndahkan karena kebodohan dan kemiskinannya bila sedang bicara dengan KH. Mufti karena sikapnya sama saja dengan sikapnya kepada orang alim dan orang kaya. Penuh penghormatan.
            Orang kaya dan orang alim tidak akan merasa tidak dihormati oleh beliau karena memang beliau tidak memusuhi orang kaya dan sangat mencintai orang alim.
            Santri-santri merasa sama rata mendapat perhatian cinta dan kasih sayang beliau. Beliau tidak pernah menterjemahkan kasih sayang yang berlebihan kepada salah seorang santrinya sehingga semuanya merasa menjadi orang yang paling diperhatikan dan disayangi.
            Bersamaan dengan segala kesahajaan sikap hidup KH. Mufti ternyata banyak kesaksian tentang kelebihan dan keistimewaan KH. Mufti.
            Mufid Dahlan mengisahkan tentang perjalanan KH. Mufti menuju undangan riungan bersama jamaah. Ketika masih diperjalanan hujan turun. Untung tempat yang dituju telah dekat. Setelah sampai di rumah sohibul hajat jamaah yang bersama KH. Mufti menggerutu karena baju mereka kekucut. Namun aneh baju KH. Mufti tetap kering.
            Syamsul Muin meriwayatkan tentang kejadian di depan pesantren. Ketika itu KH. Mufti sedang santai duduk di depan pesantren. Tiba-tiba ada seekor burung yang terbang tepat di atas KH. Mufti, kemudian burung itu terjatuh dan mati.
            Muaayyad menceritakan, ketika KH. Mufti mencari kunci untuk melepas sebuah baud yang sukar dilepas kemudian ketika kunci tidak ada KH. Mufti melepasnya hanya dengan jari telunjuk.
            Mun’im Hari mengkhabarkan, ketika ada seorang santri yang sedang duduk di bawah pohon kelapa, KH. Mufti menyuruh santri itu untuk segera pindah. Setelah beberapa saat santri itu pindah, ternyata pelepah kelapa itu jatuh tepat di tempat santri itu duduk.
            Almarhum H. sukari mengkisahkan perjalannya ke Palembang bersama KH. Mufti ketika mendapat undangan seorang Habib untuk menyelesaikan sebuah masalah Faraid. Pakaian KH. Mufti begitu sederhana sedang H. Sukari berpakaian rapih seperti kiayi. Kemudian Habib dan jamaah lainnya menyambut H. sukari dengan penuh penghormatan karena dikira beliaulah yang bernama KH. Mufti. Sedangkan KH. Mufti sendiri tidak diperdulikan.
            Fahaduddin menyebutkan, salah seorang santri ada yang memetik kelapa KH. Mufti tanpa ijin, kemudian ketika bertemu dengan santri tersebut KH. Mufti mengatakan tolong jaga kelapa ini agar jangan ada yang mencuri. Rupanya dengan tanpa ceplok batok KH. Mufti mengetahui santri itu mencuri.
            Tabrani meriwayatkan, motor keluarga KH. Mufti hilang. Kemudian salah seorang anaknya mencari info kemana-mana untuk menemukan motor tersebut. Selain menghubungi para jawara yang dikenal juga mendatangi ahli hikmah yang bisa melihat motor itu secara gaib. Namun hasilnya tetap nihil. Kemudian salah seorang anak perempuannya merayu KH. Mufti untuk menemukan solusi. Awalnyap KH. Mufti menolak dan menganjurkan anaknya tawakal. Tapi karena anaknya ini terus merayu setengah memaksa kemudian KH. Mufti mengambil kertas dan mengusap dengan tangannya lalu gambar orang yang mencuri itu kelihatan. Karena pencuri itu dikenal maka KH. Mufti memerintahkan untuk merahasiakan kepada siapapun.
            Muayyad mengkisahkan, ketika santri DHSC berkemah disuatu tempat yang angker, beberapa santri melihat KH. Mufti berjalan mengelilingi tempat santri berkemah di tengah malam. Padahal KH. Mufti tidak ikut pergi waktu siang. KH. Mufti adalah guru yang sangat memperhatikan muridnya sehingga setiap ada kegiatan di luar pesantren KH. Mufti selalu ikut di hari pertama kemudian setelah semuanya dirasa beres KH. Mufti pulang. Tapi dalam kemah kali ini KH. Mufti tidak ikut. Maka santri heran melihat KH. Mufti tengah malam mengelilingi tempat kemah. Karena KH. Mufti tidak menghampiri ke kemah para santri yang melihat tidak berani menegur dan hanya memperhatikan dari kejauhan. Ternyata setelah kemah selesai mendapat berita bahwa sama sekali KH. Mufti tidak meninggalkan pesantren beberapa hari ini. Hal itu mudah diketahui karena bila bepergian KH. Mufti selalu mengajak salah seorang santri atau menantunya. Rupanya malam itu ada hal yang menghawatirkan para santri sehingga KH. Mufti harus datang ke tempat perkemahan dengan cara aneh.
            Cerita mutawatir tentang pohon ambon di komplek kramat Syeh Ciliwulung juga sampai kepada penulis. Ada sebuah pohon ambon angker yang sangat tua dan besar tidak ada orang yang berani merubuhkannya karena ada cerita turun-temurun bahwa siapa yang berani merubuhkannya akan terkena bencana. Padahal adanya pohon itu setidaknya membuat pejalan kaki takut untuk lewat di tengah malam. Namun KH. Mufti kemudian berani untuk menebas pohon itu dan Alhamdulillah tidak terjadi apa-apa.
            Posisi Cakung Srewu bersebrangan dengan Cakung Gandawati, banyak aktifitas KH. Mufti di daerah seberang. Sebelum ada jembatan bila hendak menyebrang harus menggunakan perahu. Tak jarang KH. Mufti pulang tengah malam dalam keadaan Mang las (tukang perahu) sudah pulang ke rumah.
            Seorang santri pernah menemani KH. Mufti pada suatu acara di sebrang. Pulang tengah malam. Di gewori , mang las tidak menyahut. Berarti mang las sudah pulang ke rumah. KH. Mufti mengajak santri itu tidur di Musola Bojong. Ketika santri itu ngeliyep, ia melihat KH. Mufti keluar musolla. Santri itu memperhatikan KH. Mufti yang berjalan menuju kali, dan, Subhanallah, KH. Mufti berajalan di atas air menuju seberang.
            Santri lain dengan kejadian hamper mirip menyaksikan KH. Mufti memanggil perahu yang terkunci. Kemudian perahu yang tanpa orang itu menyebrang menuju KH. Mufti dan kemudian membawanya ke Srewu.
            Penulis pernah silaturahmi dengan seorang kiayi yang sangat tua di Serang, beliau seangkatan dengan Kiayi Astari. Beliau menceritakan bahwa dulu beliau dihubungi oleh Ki Astari untuk datang di malam jum’at ke Cakung untuk dikasih jubah hitam.  Setelah beliau sampai di rumah ki Astari ada seorang pemuda di hadapan Ki Astari. Rupanya pemuda itu adalah KH. Mufti muda. Setelah beliau duduk, Ki Astari mengambil jubah hitam. Namun, ternyata jubah hitam itu tidak diberikan kepada beliau tapi diberikan kepada pemuda itu yang tak lain adalah KH. Mufti.
            Masih banyak lagi kisah-kisah yang penulis catat dari masyarakat yang menyaksikan keistimewaan KH. Mufti Asnawi, namun buku kecil ini terbatas tempat dan waktu. Insya Allah dalam kesempatan lain penulis akan menulis buku lagi untuk kelengkapan kisah KH. Mufti bin Asnawi.

WAFATNYA KH. MUFTI ASNAWI
             Akhirnya hari Sabtu 4 Syawal 1432 h. bertepatan dengan tanggal 3 september jam 09:50 pagi manusia mulia ini menghadap al-Rafiiq al A’la di dalam lingkungan Pondok pesantrennya  dalam usia 76 tahun. Mungkin, keinginan kuat Abah untuk segera pulang dari Rumah Sakit ke Pesantren adalah karena Abah telah mengetahui bahwa dirinya akan segera menghadap Allah dan Abah tidak ingin menghadap Allah jauh dari pesantren dan para santri sesuai dengan doa:  Watawaffanaa ma’al abraar . Banten kehilangan satu lagi putra terbaiknya.
           
FAIDAH: KERAMAT CAKUNG DAN SEKITARNYA
1.      Syekh Ciliwulung (Cakung Gegunung)
2.      Syekh Hasan bashri (Cakung Kuranji)
3.      Syekh Astari (Cakung Sikujang)
4.      Syekh Syarif (Cakung Sikujang)
5.      Ki Abdullah (Berem Cakung)
6.      Ki Syafi’I (depan Masjid Syekh Hasan Basri)
7.      Ki Darda (sikujang)
8.      Ki Serudug/Ki Abdurrahman (sikujang)
9.      Ki Citra (bunut)
10.  Ki Rawing (Cakung)
11.  Ki Usuf Rantu (Cakung)
12.  Ki rentaka (Cakung srewu)
13.  Ki Kersen (rengas gede)
14.  Ki Sukur (cakung)
15.  Ki Andang (cakung)
16.  Ki Sueb (bojong)
17.  Ki Cinding (bojong)
18.  Ki Aspa (bojong)
19.  Ki Dana (bojong)
20.  Ki Tapa
21.  Ki Busur
22.  Ki As’ad
23.  Ki Awang
24.  Ki Soiman (Belod)
25.  Ki Jalaludin bin Ules (Jalal)
26.  Ki Jamal (bojog)
27.  Ki Maing (Kedung)
28.  Syekh kijing
29.  30.  Ki Baku (Onyam)
31.  Ki Abdullah (onyam)
32.  Nyimas ratu Gandawati
33.  Seh Jabar (Kandawati)
34. 35.  Nyi halimah/Nyi Ketul (renged)
36.  Ki Rayum (Makam Kosambi-Kresek)
37.  Ki Kalbita(Makam kosambi-kresek
38..  Ki Bedug bin Syeh mubarok (Kosambi Ayunan)
39.  Ki Murtado (Belod)
40.  Ki Maderan
Copas dari : http://nahdlatululumcempaka.blogspot.com/