Contoh Marquee dari bawah ke atas

Kegiatan Studi Tour Ke Museum Fatahilah Jakarta

Kegembiraan dan keceriaan Siswa-Siswi MTs Darul Hikmah Setibanya di Alun-Alun Museum Fatahilah Jakakrta, di dampingi oleh Pembina OSIS (Hasbi,S.Pdi)

Kegiatan Ujian Nasional Tahun 2015

Hari ke-2 Selasa,5 Mei 2015 sebanyak 48 Siswa-Siswi MTs Darul Hikmah Masih Tetap semangat untuk menyelesaikan Soal Ujian Nasioanl

Kegiatan Studi Tour Ke Museum Fatahilah,Museum Wayang, dan Bank Indonesia

Wejangan dan Nasihat dari Kepala Sekolah Sebelum melaksanakan Penelitian di Museum Fatahilah, Museum Wayang, dan Musem Bank Indonesia

Akreditasi MTsS Darul Hikmah 2019

Akreditasi MTsS Darul Hikmah 25 - 26 Juli 2019 Oleh Team Akreditasi BAP S/M Prov. Banten, Ibu Cristhini PB dan Ibu Susiswi Purwaningsih

SUNGKEMAN

"SUNGKEMAN" pada Kegiatan Perpisahan Siswa-Siswi MTs Darul Hikmah dan SMA Asa Pertiwi Tahun 2015

Rabu, 16 Desember 2015

Edit Data Peserta Ujian Nasional Tahun 2015/2016

Cara Edit Data Calon Peserta UN Tahun 2015/2016 di Aplikasi Emis Online
1. Login di http://emispendis.kemenag.go.id/vervalun/login.php

http://emispendis.kemenag.go.id/vervalun/login.php

2. Calon Peserta UN
3. Klik Nama Pesrta UN yang akan di Perbaiki


data yang diperlukan untuk memperbaiki data Capesun diantaranya :
Nama Siswa, Nomor Absensi, NISN, NIS Lokal,Nomor Peserta UN, Nomor Blanko SKHUN  Nomor Seri Ijasah.


4. Simpan
5. Jika sudah yakin benar semua Cetak Berita Acara (Cetak BA CAPESUM)

Selasa, 15 Desember 2015

Kalender Pendidikan MTs Darul Hikmah


Kalender MTs Darul Hikmah
Kalender Pendidikan MTs Darul Hikmah Tahun Pelajaran 2015/2016
Semester Ganjil 2015-2016
1. (27-29 Juli 2015) ~ Kegiatan Awal Masuk : Masa Bimbingan Siswa Baru
2. (17 Agustus 2015) ~ Libur Resmi Nasional : Peringatan HUT RI
3. (24 September 2015) ~ Libur Resmi Nasional :
4. (5-10 Oktober 2015) ~ Kegiatan Ulangan Tengah Semester Ganjil
5. (15 Oktober 2015) ~ Libur Resmi Nasional :
6. (2-8 Desember 2015) ~ Kegiatan Ulangan Akhir Semester Ganjil
7. (19 Desember 2015) ~ Penyerahan Buku Raport
8. (20 Desember 2015 - 3 Januari 2015) ~ Libur Semester Ganjil

Semester Genap 2015-2016
1. (4 Janauri 2016) ~ Awal Masuk Semester Genap TP.2015/2016
2. (8 Februari 2016) ~ Libur Resmi Nasional :
3. (7-12 Maret 2016) ~ Kegiatan Ulangan Tengah Semester Genap
4. (25 Maret 2016) ~ Libur Resmi Nasional
5. (11-13 April 2016) ~ Prediksi Kegiatan Ujian Akhir Madrasah Berstandar Nasional


Senin, 14 Desember 2015

Jadwal Study Tour


http://www.darulhikmah.sch.id/2015/12/jadwal-study-tour.html




Jadwal Study Tour TP.2015/2016
Waktu/ Tanggal Pelaksanaan :
Hari Minggu, 27 Desember 2015

Lokasi Tujuan Study Tour
Museum Geologi dan Tangkuban Parahu/Ciater

Waktu Pemberangkatan
Berangkat Malam Minggu Jam : 11 Malam dari Rumah Kepala Sekolah

Perlengkapan Siswa:
1. Seragam Putih-Putih dan Jas
2. Membawa Alat Tulis
3. Yang lainnya untuk keperluan Pencatatan Data (kamera/perekam)
4. Jangan Dilupakan UANG JAJAN dan SNACK/MINUMAN

Pembagian Kelompok Study Tour

Kelompok  1
  1. Ari Susanto
  2. Muhammad Nurkholis
  3. Mukhibin 
  4. Nabhani
  5. Muhammad Andryan
  6. Muhamad Solehan 
Kelompok 2
  1. Andi
  2. Muhammad Hadi
  3. Refaldo Alfadoni
  4. Rokhi
  5. Suwandi
  6. Diki Wahyudi
Kelompok 3
  1. Syaifullah
  2. Suryadi
  3. Mukhammad Yakhya
  4. Fiqri
  5. Sunardi
  6. Suhendi
Kelompok 4
  1. Masamah 
  2. Siti Magfiroh
  3. Khujaemah
  4. Rosita
  5. Selfiyah
Kelompok 5
  1. Magfiroh
  2. Miftakhul Jannah
  3. Juni
  4. Juheriyah
  5. Kasmi
  6. Rabi'ah
           




Agenda Kegiatan Kesiswaan

Agenda Kegiatan Kesiswaan


Agenda Kesiswaan MTs Darul Hikmah Onyam TP.2015/2016  Tanggal 27 Desember 2015 diadakannya Study Tour Untuk Kelas 3 dengan Tujuan Obyek Study diantarananya  Museum Geologi dan Tangkuban Parahu Bandung Jawa Barat

Penerimaan Siswa Baru Tahun Pelajaran 2015/2016

 
http://www.darulhikmah.sch.id/p/ppdb.html
Penerimaan Siswa Baru Tahun Pelajaran 2015/2016

Madrasah Tsanawiyah Darul Hikmah Menciptakan peserta didik berprestasi akademik dan berdaya saing baik ditingkat Kabupaten/Kota, Provinsi maupun Nasional, Mewujdukan siswa yang berkepribadian nasional dan berakhlak mulia, Meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan dan keterampilan, Menguasai tekhnologi dasar dan mengembangkan bakat peserta didik, dan Menyiapkan peserta didik untuk melanjutkan transformasi nilai, budaya, ilmu pengetahuan tekhnologi pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Maka Pada tahun ajaran 2015/2016 Madrasah Tsanawiyah Darul Hikmah akan menerima calon peserta didik baru. Penerimaan peserta didik yang dilakukan dengan cara yang baik akan mampu meningkatkan mutu pendidikan dan mencapai sumber daya manusia yang berkualitas sesuai dengan kompetensi yang ditetapkan secara nasional.

Para siswa yang dididik di  Madarasah Tsanawiyah Darul Hikmah adalah para siswa yang telah memenuhi kriteria yang  ditetapkan pada penerimaan peserta didik baru.


Visi dan Misi Madrasah


http://www.darulhikmah.sch.id/p/visi-misi.html


Visi madrasah

Unggul dalam prestasi akademik, berkepribadian dan akhlak mulya, serta paripurna dalam menguasai ilmu dan tekhnologi dasar.

Misi madrasah

Menyelenggarakan proses belajar dengan metode terbaru dan didukung sarana yang memadai; Pelatihan hidup sosial kemasyarakatan; Penanaman nilai-nilai Agama dan Akhlak Mulia; Simulasi dan pelatihan ilmu dan tekhnologi dasar; Menyelenggarakan transformasi nilai budaya, ilmu dan tekhnologi pada tingkat dasar.

Minggu, 13 Desember 2015

Syekh Asnawi Bin Abdurrahman Caringin

 
http://www.darulhikmah.sch.id/2015/12/syekh-asnawi-bin-abdurrahman-caringin.html 
Syekh Asnawi Bin Abdurrahman Caringin


Banten memiliki banyak ulama tersohor yang mewariskan ilmu agama bagi masyarakat. Jika pada edisi lalu disebutkan biografi dan kiprah Syekh Nawawi Al Bantani, terdapat salah satu murid beliau yang juga pernah menjadikan Banten negeri madani. Dialah KH Asnawi bin Abdurrahman Al Bantani.

Sang kiai lahir di Kampung Caringin, Labuan Banten, sekitar 1850, di tengah keluarga yang religius. Sang ayah, Abdurrahman, dan ibunya, Ratu Sabi’ah, berasal dari keluarga yang kental berislam. Bahkan, disebutkan pula bahwa Kiai Asnawi masih keturunan Sultan Ageng Mataram Raden Patah. Tak heran jika sejak kecil, Asnawi hidup dalam didikan yang baik.

Pada usia yang masih sangat belia, sembilan tahun, Asnawi sudah dikirim ayahnya untuk menuntut ilmu ke Makkah. Di Tanah Suci, Asnawi kemudian bertemu gurunya, Syekh Nawawi Al Bantani, yang merupakan guru di Masjidil Haram. Bukan sekadar karena sama-sama kelahiran Banten Asnawi dapat dekat dengan sang guru. Namun, kecerdasannya juga membuat Syekh Nawawi mengajarkan banyak hal padanya.

Bertahun-tahun kiai belajar di tanah kelahiran Islam. Hingga ketika dirasa telah mumpuni dalam agama, ia pun dipercaya untuk mendakwahkan Islam. Maka, kiai pun pulang kembali ke tanah lahirnya, Banten. Ia pun mulai mengajar dan mengundang ketertarikan banyak pemuda hingga menjadi muridnya. Tersiarlah nama Asnawi sebagai ulama di kawasan Banten dan sekitarnya. Kepiawaiannya dalam berdakwah membuat nama kiai Asnawi tersohor sebagai ulama besar di Banten.

Tak hanya mengajarkan agama, Kiai Asnawi juga terkenal semangatnya yang menggebu dalam melawan penjajah. Ia mengobarkan semangat pemuda untuk melawan dan menentang kolonialisme Belanda. Apalagi, saat itu seluruh wilayah Banten berhasil dikuasai penjajah. Bahkan, tak hanya mengobarkan semangat kemerdekaan lewat lisan, tapi juga aksi. Kiai juga dikenal memiliki ilmu bela diri yang sakti.

Kiai yang tangguh dan berhasil mengajak pemuda untuk melawan penjajah pun menjadi ancaman bagi Belanda. Apalagi, Banten dikenal sebagai tempat lahirnya para ‘pemberontak’ Belanda, bukan hanya dari kalangan rakyat biasa, melainkan juga dari kalangan ulama. Alhasil, kiai pernah ditahan oleh penjajah di Tanah Abang serta diasingkan ke Cianjur. Ia dihukum lebih dari setahun dengan tuduhan melakukan pemberontakan. Namun, selama ditahan dan diasingkan, kiai tetap aktif menyampaikan dakwah Islam. Ia mengajarkan syariat Islam kepada masyarakat sekitar di manapun ia berada.

Seusai diasingkan, kiai kembali ke kampungnya di Caringin. Karena situasi yang lebih aman, kiai makin giat mensyiarkan Islam. Ia pun mendirikan sebuah Madrasah Masyarikul Anwar dan masjid di Caringin pada 1884. Masjid tersebut bernama Masjid Caringin yang hingga kini masih berdiri tegak. Ada kisah yang beredar di masyarakat bahwa kayu untuk bangunan masjid tersebut berasal dari sebuah pohon yang dibawa kiai dari Kalimantan. Pohon tersebut hanya satu, namun menghasilkan banyak kayu karena keberkahan sang kiai.

Beberapa sumber menyebutkan, pembangunan Masjid Caringin oleh kiai juga ditujukan untuk membangun kembali peradaban masyarakat yang hancur akibat letusan Gunung Krakatau pada 1883. Kiai Asnawi ingin membangun kembali akidah masyarakat dengan didirikannya sarana masjid tersebut. Sejak masjid berdiri, dakwah pun makin menggeliat. Banyak pemuda datang untuk berguru pada kiai. Asnawi pun menghabiskan usianya untuk pengajaran agama dari tempat kelahirannya, Caringin.

Karena Asnawi sangat terkenal pamornya sebagai ulama besar dari Kampung Caringin, ia pun dikenal pula dengan nama Kiai Asnawi Caringin. Masyarakat memaknai Caringin dengan beringin. Selain karena kampung asal kiai dari Caringin, nama Caringin juga dianggap pas bagi kiai karena telah mengayomi masyarakat layaknya teduhnya pohon beringin.

Setelah banyak kiprah yang ditorehkan bagi masyarakat, terutama masyarakat Banten, kiai menghembuskan napas terakhir pada 1937. Ia meninggalkan banyak sekali anak, yakni 23 putra dan putri. Ia dimakamkan di dekat masjid yang ia bangun, Masjid Caringin. Hingga kini, banyak masyarakat yang rajin berziarah ke makamnya.

Syeikh Nawawi al-Bantani


http://www.darulhikmah.sch.id/2015/12/syaikh-muhammad-nawawi-al-jawi-al.html

Syaikh Muhammad Nawawi al-Jawi al-Bantani 
Bahasa Arab: محمد نووي الجاوي البنتني, lahir di Tanara, Serang, 1813 - meninggal di Mekkah, 1897) adalah seorang ulama Indonesia yang terkenal. Ia bergelar al-Bantani karena ia berasal dari Banten, Indonesia. Ia adalah seorang ulama dan intelektual yang sangat produktif menulis kitab, yang meliputi bidang-bidang fiqih, tauhid, tasawuf, tafsir, dan hadis. Jumlah karyanya mencapai tidak kurang dari 115 kitab.

Kelahiran dan Pendidikan
1230-1314 H / 1815- 1897 M Lahir dengan nama Abû Abdul Mu’ti Muhammad Nawawi bin ‘Umar bin ‘Arabi. Ulama besar ini hidup dalam tradisi keagamaan yang sangat kuat. Ulama yang lahir di Kampung Tanara, sebuah desa kecil di kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang, Propinsi Banten (Sekarang di Kampung Pesisir, desa Pedaleman Kecamatan Tanara depan Mesjid Jami’ Syaikh Nawawi Bantani) pada tahun 1230 H atau 1815 M ini bernasab kepada keturunan Maulana Hasanuddin Putra Sunan Gunung Jati, Cirebon. Keturunan ke-12 dari Sultan Banten. Nasab dia melalui jalur ini sampai kepada Baginda Nabi Muhammad saw. Melalui keturunan Maulana Hasanuddin yakni Pangeran Suniararas, yang makamnya hanya berjarak 500 meter dari bekas kediaman dia di Tanara, nasab Ahlul Bait sampai ke Syaikh Nawawi. Ayah dia seorang Ulama Banten, ‘Umar bin ‘Arabi, ibunya bernama Zubaedah.

Pendidikan
Semenjak kecil dia memang terkenal cerdas. Otaknya dengan mudah menyerap pelajaran yang telah diberikan ayahnya sejak umur 5 tahun. Pertanyaanpertanyaan kritisnya sering membuat ayahnya bingung. Melihat potensi yang begitu besar pada putranya, pada usia 8 tahun sang ayah mengirimkannya keberbagai pesantren di Jawa. Dia mula-mula mendapat bimbingan langsung dari ayahnya, kemudian berguru kapada Kyai Sahal, Banten; setelah itu mengaji kepada Kyai Yusuf, Purwakarta.[1]

Di usia dia yang belum lagi mencapai 15 tahun, Syaikh Nawawi telah mengajar banyak orang. Sampai kemudian karena karamahnya yang telah mengkilap sebelia itu, dia mencari tempat di pinggir pantai agar lebih leluasa mengajar murid-muridnya yang kian hari bertambah banyak. Pada usia 15 tahun dia menunaikan haji dan berguru kepada sejumlah ulama terkenal di Mekah, seperti Syaikh Khâtib al-Sambasi, Abdul Ghani Bima, Yusuf Sumbulaweni, Abdul Hamîd Daghestani, Syaikh Sayyid Ahmad Nahrawi, Syaikh Ahmad Dimyati, Syaikh Ahmad Zaini Dahlan, Syaikh Muhammad Khatib Hambali, dan Syaikh Junaid Al-Betawi. Tapi guru yang paling berpengaruh adalah Syaikh Sayyid Ahmad Nahrawi, Syaikh Junaid Al-Betawi dan Syaikh Ahmad Dimyati, ulama terkemuka di Mekah. Lewat ketiga Syaikh inilah karakter dia terbentuk. Selain itu juga ada dua ulama lain yang berperan besar mengubah alam pikirannya, yaitu Syaikh Muhammad Khatib dan Syaikh Ahmad Zaini Dahlan, ulama besar di Medinah.

Karya-Karya dan Karamah
Kepakaran dia tidak diragukan lagi. Ulama asal Mesir, Syaikh 'Umar 'Abdul Jabbâr dalam kitabnya "al-Durûs min Mâdhi al-Ta’lîm wa Hadlirih bi al-Masjidil al-Harâm” (beberapa kajian masa lalu dan masa kini tentang Pendidikan Masa kini di Masjidil Haram) menulis bahwa Syaikh Nawawi sangat produktif menulis hingga karyanya mencapai seratus judul lebih, meliputi berbagai disiplin ilmu. Banyak pula karyanya yang berupa syarah atau komentar terhadap kitab-kitab klasik. Sebagian dari karya-karya Syaikh Nawawi di antaranya adalah sebagai berikut:
  1.     al-Tsamâr al-Yâni’ah syarah al-Riyâdl al-Badî’ah
  2.     al-‘Aqd al-Tsamîn syarah Fath al-Mubîn
  3.     Sullam al-Munâjah syarah Safînah al-Shalâh
  4.     Baĥjah al-Wasâil syarah al-Risâlah al-Jâmi’ah bayn al-Usûl wa al-Fiqh wa al-Tasawwuf
  5.     al-Tausyîh/ Quwt al-Habîb al-Gharîb syarah Fath al-Qarîb al-Mujîb
  6.     Niĥâyah al-Zayyin syarah Qurrah al-‘Ain bi Muĥimmâh al-Dîn
  7.     Marâqi al-‘Ubûdiyyah syarah Matan Bidâyah al-Ĥidâyah
  8.     Nashâih al-‘Ibâd syarah al-Manbaĥâtu ‘ala al-Isti’dâd li yaum al-Mi’âd
  9.     Salâlim al-Fadhlâ΄ syarah Mandhûmah Ĥidâyah al-Azkiyâ΄
  10.     Qâmi’u al-Thugyân syarah Mandhûmah Syu’bu al-Imân
  11.     al-Tafsir al-Munîr li al-Mu’âlim al-Tanzîl al-Mufassir ‘an wujûĥ mahâsin al-Ta΄wil musammâ Murâh Labîd li Kasyafi Ma’nâ Qur΄an Majîd
  12.     Kasyf al-Marûthiyyah syarah Matan al-Jurumiyyah
  13.     Fath al-Ghâfir al-Khathiyyah syarah Nadham al-Jurumiyyah musammâ al-Kawâkib al-Jaliyyah
  14.     Nur al-Dhalâm ‘ala Mandhûmah al-Musammâh bi ‘Aqîdah al-‘Awwâm
  15.     Tanqîh al-Qaul al-Hatsîts syarah Lubâb al-Hadîts
  16.     Madârij al-Shu’ûd syarah Maulid al-Barzanji
  17.     Targhîb al-Mustâqîn syarah Mandhûmah Maulid al-Barzanjî
  18.     Fath al-Shamad al ‘Âlam syarah Maulid Syarif al-‘Anâm
  19.     Fath al-Majîd syarah al-Durr al-Farîd
  20.     Tîjân al-Darâry syarah Matan al-Baijûry
  21.     Fath al-Mujîb syarah Mukhtashar al-Khathîb
  22.     Murâqah Shu’ûd al-Tashdîq syarah Sulam al-Taufîq
  23.     Kâsyifah al-Sajâ syarah Safînah al-Najâ
  24.     al-Futûhâh al-Madaniyyah syarah al-Syu’b al-Îmâniyyah
  25.     ‘Uqûd al-Lujain fi Bayân Huqûq al-Zaujain
  26.     Qathr al-Ghais syarah Masâil Abî al-Laits
  27.     Naqâwah al-‘Aqîdah Mandhûmah fi Tauhîd
  28.     al-Naĥjah al-Jayyidah syarah Naqâwah al-‘Aqîdah
  29.     Sulûk al-Jâdah syarah Lam’ah al-Mafâdah fi bayân al-Jumu’ah wa almu’âdah
  30.     Hilyah al-Shibyân syarah Fath al-Rahman
  31.     al-Fushûsh al-Yâqutiyyah ‘ala al-Raudlah al-Baĥîyyah fi Abwâb al-Tashrîfiyyah
  32.     al-Riyâdl al-Fauliyyah
  33.     Mishbâh al-Dhalâm’ala Minĥaj al-Atamma fi Tabwîb al-Hukm
  34.     Dzariyy’ah al-Yaqîn ‘ala Umm al-Barâĥîn fi al-Tauhîd
  35.     al-Ibrîz al-Dâniy fi Maulid Sayyidina Muhammad al-Sayyid al-Adnâny
  36.     Baghyah al-‘Awwâm fi Syarah Maulid Sayyid al-Anâm
  37.     al-Durrur al-Baĥiyyah fi syarah al-Khashâish al-Nabawiyyah
  38.     Lubâb al-bayyân fi ‘Ilmi Bayyân.[4]
Karya tafsirnya, al-Munîr, sangat monumental, bahkan ada yang mengatakan lebih baik dari Tafsîr Jalâlain, karya Imâm Jalâluddîn al-Suyûthi dan Imâm Jalâluddîn al-Mahâlli yang sangat terkenal itu. Sementara Kâsyifah al-Sajâ syarah merupakan syarah atau komentar terhadap kitab fiqih Safînah al-Najâ, karya Syaikh Sâlim bin Sumeir al-Hadhramy. Para pakar menyebut karya dia lebih praktis ketimbang matan yang dikomentarinya. Karya-karya dia di bidang Ilmu Akidah misalnya Tîjân al-Darâry, Nûr al-Dhalam, Fath al-Majîd. Sementara dalam bidang Ilmu Hadits misalnya Tanqih al-Qaul. Karya-karya dia di bidang Ilmu Fiqih yakni Sullam al-Munâjah, Niĥâyah al-Zain, Kâsyifah al-Sajâ. Adapun Qâmi’u al-Thugyân, Nashâih al-‘Ibâd dan Minhâj al-Raghibi merupakan karya tasawwuf. Ada lagi sebuah kitab fiqih karya dia yang sangat terkenal di kalangan para santri pesantren di Jawa, yaitu Syarah ’Uqûd al-Lujain fi Bayân Huqûq al-Zaujain. Hampir semua pesantren memasukkan kitab ini dalam daftar paket bacaan wajib, terutama di Bulan Ramadhan. Isinya tentang segala persoalan keluarga yang ditulis secara detail. Hubungan antara suami dan istri dijelaskan secara rinci. Kitab yang sangat terkenal ini menjadi rujukan selama hampir seabad. Tapi kini, seabad kemudian kitab tersebut dikritik dan digugat, terutama oleh kalangan muslimah. Mereka menilai kandungan kitab tersebut sudah tidak cocok lagi dengan perkembangan masa kini. Tradisi syarah atau komentar bahkan kritik mengkritik terhadap karya dia, tentulah tidak mengurangi kualitas kepakaran dan intelektual dia

Karamah
Konon, pada suatu waktu pernah dia mengarang kitab dengan menggunakan telunjuk dia sebagai lampu, saat itu dalam sebuah perjalanan. Karena tidak ada cahaya dalam syuqduf yakni rumah-rumahan di punggung unta, yang dia diami, sementara aspirasi tengah kencang mengisi kepalanya. Syaikh Nawawi kemudian berdoa memohon kepada Allah Ta’ala agar telunjuk kirinya dapat menjadi lampu menerangi jari kanannya yang untuk menulis. Kitab yang kemudian lahir dengan nama Marâqi al-‘Ubudiyyah syarah Matan Bidâyah al-Hidayah itu harus dibayar dia dengan cacat pada jari telunjuk kirinya. Cahaya yang diberikan Allah pada jari telunjuk kiri dia itu membawa bekas yang tidak hilang. Karamah dia yang lain juga diperlihatkannya di saat mengunjungi salah satu masjid di Jakarta yakni Masjid Pekojan. Masjid yang dibangun oleh salah seorang keturunan cucu Rasulullah saw Sayyid Utsmân bin ‘Agîl bin Yahya al-‘Alawi, Ulama dan Mufti Betawi (sekarang ibukota Jakarta),[6] itu ternyata memiliki kiblat yang salah. Padahal yang menentukan kiblat bagi mesjid itu adalah Sayyid Utsmân sendiri.

Tak ayal , saat seorang anak remaja yang tak dikenalnya menyalahkan penentuan kiblat, kagetlah Sayyid Utsmân. Diskusipun terjadi dengan seru antara mereka berdua. Sayyid Utsmân tetap berpendirian kiblat Mesjid Pekojan sudah benar. Sementara Syaikh Nawawi remaja berpendapat arah kiblat mesti dibetulkan. Saat kesepakatan tak bisa diraih karena masing-masing mempertahankan pendapatnya dengan keras, Syaikh Nawawi remaja menarik lengan baju lengan Sayyid Utsmân. Dirapatkan tubuhnya agar bisa saling mendekat.
“     “Lihatlah Sayyid!, itulah Ka΄bah tempat Kiblat kita. Lihat dan perhatikanlah! Tidakkah Ka΄bah itu terlihat amat jelas? Sementara Kiblat masjid ini agak kekiri. Maka perlulah kiblatnya digeser ke kanan agar tepat menghadap ke Ka΄bah". Ujar Syaikh Nawawi remaja.     ”

Sayyid Utsmân termangu. Ka΄bah yang ia lihat dengan mengikuti telunjuk Syaikh Nawawi remaja memang terlihat jelas. Sayyid Utsmân merasa takjub dan menyadari , remaja yang bertubuh kecil di hadapannya ini telah dikaruniai kemuliaan, yakni terbukanya nur basyariyyah. Dengan karamah itu, di manapun dia berada Ka΄bah tetap terlihat. Dengan penuh hormat, Sayyid Utsmân langsung memeluk tubuh kecil dia. Sampai saat ini, jika kita mengunjungi Masjid Pekojan akan terlihat kiblat digeser, tidak sesuai aslinya.[7]

Telah menjadi kebijakan Pemerintah Arab Saudi bahwa orang yang telah dikubur selama setahun kuburannya harus digali. Tulang belulang si mayat kemudian diambil dan disatukan dengan tulang belulang mayat lainnya. Selanjutnya semua tulang itu dikuburkan di tempat lain di luar kota. Lubang kubur yang dibongkar dibiarkan tetap terbuka hingga datang jenazah berikutnya terus silih berganti. Kebijakan ini dijalankan tanpa pandang bulu. Siapapun dia, pejabat atau orang biasa, saudagar kaya atau orang miskin, sama terkena kebijakan tersebut. Inilah yang juga menimpa makam Syaikh Nawawi. Setelah kuburnya genap berusia satu tahun, datanglah petugas dari pemerintah kota untuk menggali kuburnya. Tetapi yang terjadi adalah hal yang tak lazim. Para petugas kuburan itu tak menemukan tulang belulang seperti biasanya. Yang mereka temukan adalah satu jasad yang masih utuh. Tidak kurang satu apapun, tidak lecet atau tanda-tanda pembusukan seperti lazimnya jenazah yang telah lama dikubur. Bahkan kain putih kafan penutup jasad dia tidak sobek dan tidak lapuk sedikitpun.

Terang saja kejadian ini mengejutkan para petugas. Mereka lari berhamburan mendatangi atasannya dan menceritakan apa yang telah terjadi. Setelah diteliti, sang atasan kemudian menyadari bahwa makam yang digali itu bukan makam orang sembarangan. Langkah strategis lalu diambil. Pemerintah melarang membongkar makam tersebut. Jasad dia lalu dikuburkan kembali seperti sediakala. Hingga sekarang makam dia tetap berada di Ma΄la, Mekah.

Demikianlah karamah Syaikh Nawawi al-Bantani al-Jawi. Tanah organisme yang hidup di dalamnya sedikitpun tidak merusak jasad dia. Kasih sayang Allah Ta’ala berlimpah pada dia. Karamah Syaikh Nawawi yang paling tinggi akan kita rasakan saat kita membuka lembar demi lembar Tafsîr Munîr yang dia karang. Kitab Tafsir fenomenal ini menerangi jalan siapa saja yang ingin memahami Firman Allah swt. Begitu juga dari kalimat-kalimat lugas kitab fiqih, Kâsyifah al-Sajâ, yang menerangkan syariat. Begitu pula ratusan hikmah di dalam kitab Nashâih al-‘Ibâd. Serta ratusan kitab lainnya yang akan terus menyirami umat dengan cahaya abadi dari buah tangan dia.


Wafat
Masa selama 69 tahun mengabdikan dirinya sebagai guru Umat Islam telah memberikan pandangan-pandangan cemerlang atas berbagai masalah umat Islam. Syaikh Nawawi wafat di Mekah pada tanggal 25 syawal 1314 H/ 1897 M. Tapi ada pula yang mencatat tahun wafatnya pada tahun 1316 H/ 1899 M. Makamnya terletak di pekuburan Ma'la di Mekah. Makam dia bersebelahan dengan makam anak perempuan dari Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq, Asma΄ binti Abû Bakar al-Siddîq.
https://id.wikipedia.org/wiki/Nawawi_al-Bantani